20.5.11

Hujan, Tanah, dan Crafty Days #5

Hujan dan tanah basah. Dua kali Crafty Days yang saya hadiri, dua kali pula hujan dan tanah basah saya temui mengharum menjadi satu dengan barisan meja para crafter dan pengunjung yang membaur. Terus terang, saya bukanlah crafter. Belajar merajut tingkat dasar pun saya selalu merasa kesulitan. Satu-satunya keahlian yang saya miliki berhubungan dengan dunia craft adalah merecoki Upi dan rajutannya, mengganggu Mayang atau Dini yang sedang asoy geboy di meja kasir, menggoda Moel yang asyik berkarya, atau manggut-manggut mendengar Erri berbicara tentang dunia desain. Kadangkala, Mbak Tarlen yang sedang tekun memotong-motong kertas pun saya hampiri hanya untuk menyampaikan gosip-gosip setempat nan memabukkan. Lalu, apa hubungannya Crafty Days dengan saya yang bukan crafter ini? Ah, mari beranalogi sok-sok filosofis sejenak. Jika hujan dan tanah menjadi perpaduan maha sempurna ketika mereka bertemu, mungkin begitulah yang saya rasakan ketika menemui Crafty Days. 


Perihal hujan dan tanah ini pula yang yang sangat mengganggu sekaligus menggoda. Saya tidak tahu, apakah saya tanah, ataukah kawan-kawan crafter yang hadir dan sebagiannya pernah saya wawancara secara langsung atau pun maya menjadi hujan, atau malah justru sebaliknya, namun, Crafty Days #5 kemarin sudah barang tentu menjadi pusat dari segala rotasi atas hujan dan tanah tersebut. 

Bagi saya, dan mungkin bagi banyak orang lainnya, Crafty Days bukanlah sekadar pasar kaget yang nongol setahun sekali. Sebagai pusat rotasi, Crafty Days kemudian menjadi semangat dalam pengertian yang sebenar-benarnya. 

Ada yang berjibaku menembus kemacetan Cipularang, ada yang menembus belukar Yogyakarta-Bandung, ada yang dengan tekun melakukan sentuhan akhir pada karyanya dengan alat dan modal seadanya, kehebohan tangan-tangan tak terlihat di Facebook dan Twitter yang kian menggila menjelang Crafty Days digelar, ada yang mengangkut kursi dan meja pada H-1, sampai ada motor tua mogok milik Mayang yang menjadi saksi bisu Crafty Days kemarin. Yang tak tahu meski mengerjakan apa, pun tak ketinggalan menyusun dengan asal rajutan-rajutan gurita Moel nan absurd meski tahu sang pemilik tak berkenan dengan susunan tersebut. Semua aktivitas resistensi pada kultur mapan tersebut melebur menjadi satu, berotasi dan berpusat pada satu titik. 


Semangat paguyuban tersebut bisa jadi merupakan hal yang paling penting di luar kepentingan eksistensi para crafter dalam menghadirkan karyanya. Semangat paguyuban tersebut pula yang lagi-lagi menjadi esensi paling utama dari apa yang dihadirkan oleh Crafty Days. Well. Crafty Days #5 sudah berakhir dan saya tak perlu lagi berpanjang-panjang menulis. Jikalah saya tahun depan berkesempatan untuk menyambangi Crafty Days #6 di manapun ia diadakan, maka hal yang pertama saya lakukan adalah membaca ulang tulisan ini, dan berharap agar Crafty Days tetap menjadi pusat rotasi atas hujan dan tanah. Sampai jumpa kawan-kawan, tetaplah menjadi hujan atau tanah.

1 komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails