Terus terang, saya jarang sekali intips-intips karya keramik kecuali beberapa pot dari tanah liat di depan rumah dan gelas keramik model jadul ala film silat di TV sampai kemudian di suatu sore dengan basah hujan pada jendela kamar (alah bahasanyaaaaa), bercakap-cakaplah saya dengan Tisa Granicia, salah seorang pendiri Kandura keramik, para pembuat keramik inovatif nan kreatif plus unik. Mengusung tema keseharian, Kandura memuaskan dahaga saya untuk lebih dalam menyelami dunia perkeramikan. Ahiwww, mari dikebet saja sodara-sodara!
Ceritain, dong, awal terbentuknya Kandura…
awalnya ajakan dari Fauzy Prasetya (Uji) dan Bathsebha Satyaalangghya (Ghia). Kami teman satu angkatan. Terus ada juga Nuri Fatima yang gabung semenjak 2010. Uji asalnya dari studio desain produk dan Ghia sama kayak saya dari studio seni keramik juga. Selepas lulus tahun 2005, Uji melempar ide ke kami berdua untuk bikin studio keramik sama-sama, ide itu kami sambut dengan baik. Lalu kami mulai udunan untuk beli alat-alat seperti tungku dan alat alat lainnya. Sejak saat itu kami mulai usaha kami sampai sekarang.
Apa, sih, sebenernya yang bikin kalian tertarik dengan keramik?
Kami tertarik dengan material tersebut karena keramik berasal dari tanah liat, sifatnya yang plastis bisa meniru bentuk apa aja gitu, serta ribuan teknis yang bisa kami eksplorasi terus seperti tidak pernah ada habisnya. Singkat kata keramik itu Surprising! Terus juga studio keramik masih jarang di Indonesia, apalagi studio yang mengkhususkan dirinya dengan mengeluarkan desain desain yang bagus, hehe.
Base-nya dari tanah liat. Tanah liat aja udah macem-macem bentukannya. ada bakaran rendah seperti earthen ware, ada bakaran sedang stoneware, lalu ada juga porselen. Dari situ aja perlakuan terhadap tiap tiap material beda-beda, belum lagi cara pewarnaan yang teknisnya sangat banyak, harus punya pengetahuan khusus untuk bisa tahu cara pembuatan keramik. Cara pewarnaan juga dibutuhkan pengetahuan bahan yang cukup kompleks, pembuatan pewarna keramik atau yang biasa disebut glasir tidak mudah, kita harus tahu proses dan rumus kimianya yang dihitung secara terstruktur.
Waduhh... waduhhh edannn, ribet juga bikin keramik. Hihi. Nah, balik lg nih... Kenapa, ya, studio keramik di Indonesia itu enggak banyak? Kurang laku gitu atau gimana?
Mungkin, ya, karena teknisnya yang sulit serta peralatan yang cukup mahal. kalau masalah laku atau tidak, sih, enggak juga, yah. Toh kandura jalan sampai hari ini. Peminat keramik banyak, pengrajin juga banyak, tapi karena sedikit studio keramik di sini jadi mungkin orang masih awam sama keramik.
Nah, kamu sendiri mulai seneng ama keramik sejak kapan?
Saya mulai seneng keramikan pas saya masuk studio seni keramik jaman kuliah dulu tahun 2001. Tingkat dua ketika penjurusan, saya milih untuk masuk studio seni keramik karena jarang orang yang pilih. Temen-temen saya lebih milih masuk lukis atau grafis. Nah, karena mahal, makanya saya gabung sama dua orang temen saya tadi biar bisa lebih ringan biayanya.
Apa, sih, yang paling susah dipelajari kalo orng mau belajar bikin keramik?
Harus sabar dan kemauan yang tinggi karena semua teknisnya susah, hehe.
Ow… Hmmm… Hal pertama yang harus dikuasai?
Menguasai pembentukan untuk membentuk tanah liat itu sendiri , hand building dengan teknis manual, terus masuk ke teknis putar. Dari situ baru ke pembakaran dan pembuatan glasir. Setelah teknik putar bisa belajar mencetak dengan tehnik cor.
Tampak rumit... hihihi... eh, Tisa pas crafty day ngisi workshop, ya?
Iya. Pengen bikin workshop muter keramik pake meja puter ala-ala demi more di film Ghost gituu
Hahaha, baiklah aku jadi volunteer pemeran cowokny kalo begitu tapi curiga yang workshop kabur semua, wkwkwk. Lanjut, nih. Kalo tanah liatnya sendiri, tuh, emang khusus, ya?
Tanah liatnya khusus bisa didapat di suplier bahan keramik di Bandung, kok, dan enggak mahal. Material, sih, cenderung terjangkau, alat alat yang mahal, kayak pot mill dan mesinnya untuk menggiling glasir, kompresor dan spraygun kalau mau memakai tehnik semprot dalam pewarnaan, tabung gas, dan alat giling tanah.
Hmm... kalo barang kramik yg paling dicari apaan, tuh, biasanya? Kenapa itu yang dicari?
Sampai saat ini, sih, ya, Menurut pengalaman Kandura rata-rata permintaannya antara aksesoris dan table ware karena mungkin aksesoris dari keramik masih jarang dan desain yang kami tawarkan untuk tableware juga unik dan ngepop, hehe.
Oalah, hehehe. Terakhir, nih, gimana kamu ngeliat perkembangan industri kramik sekarang?
Industri keramik masih hidup, tapi kebanyakan desainnya masih gitu-gitu aja karena mereka mengikuti selera pasar dan sedikit sekali yang menciptakan pasarnya sendiri, jadi sebenernya peluang bisnisnya masih sangat besar.
Masih penasaran dengan keramik? Cari sendiri, sih, infonya, masa dikasih tahu terus, hahaha. Nah, kalau pengen tahu lebih banyak tentang Kandura, klik aja nih link-link di bawah!
fb fan page kandurakeramik
twitter @kandurakeramik









Tidak ada komentar:
Posting Komentar