8.4.11

Kisah Timbel dan Daun Pisang

Kuliner adalah salah satu daya tarik terbesar yang dimiliki oleh Bandung. Tentu saja, hal ini terjadi karena tanah Pasundan memang memiliki begitu banyak makanan khas. Namun, khusus untuk makanan berat yang mengenyangkan, timbel bisa jadi tak tergeserkan sebagai menu favorit yang paling digemari. Nasi hangat yang masih mengepul dibungkus dengan daun pisang. Hmm… harumnya perpauduan antara nasi dan daun pisang tersebut telah begitu banyak membuat pecinta kuliner tergila-gila. Lauk yang disajikan pun umumnya sangat “nyunda”. Mulai dari ayam goreng, tempe, tahu, ikan bakar serta goreng, dan lauk-lauk lainnya plus lalapan dan sambal dadaknya. Belum lagi ditambah menu tradisional seperti ulukuteuk leunca yang mungkin hanya dapat ditemui di timbel. Kesemuanya menjadi sebuah kesatuan menu timbel yang begitu menggairahkan sekaligus menggugah selera. 

Entah telah ada semenjak berapa abad silam, kemunculan timbel sendiri sebenarnya berawal dari para petani di tatar Pajajaran. Ia merupakan bekal makan siang yang lazim dibawa oleh petani ketika hendak berangkat kerja menggarap sawah. Daripada repot membawa piring dan alat makan lainnya, mereka kemudian membuatnya menjadi praktis dengan membungkus nasi hangat dengan daun pisang. Tak merepotkan dan tak perlu mencuci piring segala. 


Meski banyak dijajakan di pinggir jalan dan berasal dari jelata, timbel ternyata tidak dianggap murahan atau makanan kelas dua. Di Bandung, timbel dengan rasa yang begitu menggairahkan bermunculan di mana-mana. Sebut saja timbel Ceu Eti. Terletak tepat di depan masjid Istiqomah di kitaran Citarum, warung timbel ini selalu ramai dikunjungi oleh pencari makanan lezat. Warung tenda Ceu Eti sudah terkenal di kalangan penikmat nasi timbel di Bandung bahkan sampai Jakarta. Warung nasi timbel Ceu Eti ini lebih dikenal dengan nama nasi timbel Istiqomah karena tempatnya yang tepat berada di depan Masjid Istiqomah, Bandung. 


Warung nasi timbel yang buka sejak Januari 2007 ini, terbilang laris manis. Menu pelengkap nasi timbel pun sangat beragam. Fadly, salah seorang pengunjung timbel Ceu Eti mengaku bahwa nasi timbel telah menjadi salah satu menu favoritnya jika sedang berlibur ke Bandung. “Rasa nasinya yang khas, belum lagi sambalnya itu, lho, gurih mengigit! Kalau tidak ke Ceu Eti, biasanya saya makan timbel di Bawean. Pokoknya, namanya Bandung memang penuh dengan penjaja timbel yang super canggih,” jelasnya bersemangat ketika dipergoki tengah begitu asyik menyantap timbel dengan lauk pauk komplit dihadapannya.

Memang, timbel tak hanya monopoli Ceu Eti saja. Terdapat begitu banyak warung-warung timbel yang diserbu pasukan pencari makan, apalagi jika weekend tiba. Selain Ceu Eti dan timbel Bawean, Deretan-deretan mobil dengan plat beragam selalu memenuhi tempat-tempat kuliner yang menyajikan timbel. Tak jauh dari Ceu Eti, nasi timbel Istiqomah berdiri. Dahulu, ia menempati tempat Ceu Eti berjualan, namun ia kini pindah tak jauh dari tempat tersebut dan mengisi sebuah bangunan permanen. 


Timbel Istiqamah bisa dibilang merupakan tonggak dunia pertimbelan di Bandung yang memopulerkan menu timbel dengan mengambil tempat di pinggir jalan. Pada masa awalnya, timbel yang satu ini mampu menyedot perhatian pecinta kuliner, bahkan hingga ke luar pulau Jawa.  Lalu ada pula warung timbel Saung Bambu di daerah Bengawan. Untuk yang satu ini, para penikmat timbel bisa menyewa komik sambil menikmati timbel di antara rindangnya pepohonan. Jangan lupakan pula nasi timbel di depan Taman Lalu Lintas yang selalu dipenuhi para penggemarnya, atau nasi timbel Kemuning di jalan kemuning yang kini telah pula menjadi incaran penikmat timbel.

Mengapa timbel menjadi begitu digemari oleh berbagai kalangan? “Sunda sekali dan enak saja menyantapnya. Dibungkus daun pisang, hmm… benar-benar santai sekaligus plural,” tutur seorang pembeli timbel Bawean. Jawaban itu mungkin benar adanya, santai dan bersahabat. Menembus segala kalangan dengan tradisi “daun pisangnya” yang unik memang bisa jadi hanya bisa dimiliki oleh nasi timbel. Berminat mencobanya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails