22.4.11

Bergelut Bersama Benjang

Foto oleh Agus Bebeng
Sisa sejuk pagi masih terasa sedikit menggigit meski matahari timur telah muncul dengan keperkasaannya. Kedua lelaki itu saling tatap tanpa kedip secuil pun, mencoba menakar kekuatan lawan di depannya. Hela nafas mereka terlihat mengalir teratur, sejurus kemudian keduanya terlibat dalam pergulatan seru. Satu pihak mencoba membanting, namun pihak yang lain dengan gemilang berhasil mengunci gerakan tangan sang lawan. Untuk beberapa saat keduanya bergumul, mencoba untuk saling menjatuhkan. Debu-debu tanah tempat mereka berpijak berputar semakin kencang dan pergulatan mereka kian menegangkan. Lelaki yang bertubuh lebih besar kemudian berhasil mengangkat lawannya, namun hanya sesaat. Tepat ketika ia melakukan bantingan, dengan cerdik sang lawan yang telah terangkat satu jengkal dari tanah itu membelitkan kakinya ke kaki sang pengangkat. Keduanya lalu terjatuh, hanya saja keadaan menjadi berbalik, sang lawan yang tadi membanting kini terkunci tak bisa bergerak.


Peristiwa yang sempat membuat nafas tercekat itu usai. Tak ada yang terluka. Malah kedua petarung itu kemudian saling berjabat tangan dan berpelukan. Ya, adegan perkelahian tadi memang hanya salah satu demonstrasi pada sebuah Festival Benjang yang cukup menyedot animo masyarakat sekitar. Hal ini setidaknya memberikan sebuah sinyalemen kuat bahwa Benjang masih memiliki eksistensinya hingga hari ini. 

Memang, seni beladiri tradisional yang satu ini masih cukup populer meskipun ia belum memiliki induk organisasi yang mewadahi para tokoh-tokohnya. Eksistensi ini terlihat dari popularitas Benjang yang kian menanjak dari hari ke hari, bahkan saat ini, Benjang mulai pula merambah menjadi salah satu kegiatan ekstra kurikuler di sekolah-sekolah. Dalam kepentingan untuk mempertahankan eksistensinya itu jugalah dewasa ini seni Benjang telah dikemas menjadi Seni Helaran. Benjang masa kini lebih sering dipertontonkan pada festival-festival yang berkenaan dengan kesenian rakyat atau dalam rangka pekan pariwisata.


Benjang sendiri sebenarnya merupakan suatu bentuk permainan tradisional yang tergolong jenis pertunjukan rakyat. Awalnya ia muncul di sekitar Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, dan Cinunuk. Gulat ala Sunda ini pertama kali diperkenalkan oleh H. Hayat dan Wiranta pada 1820 dan berkembang di pesantren. Mungkin karena pesantren menjadi tempat awal kemunculannya, Benjang terkesan menjadi sedikit religius. Doa-doa agar terhindar dari bermacam gangguan pun selalu dilakukan oleh para pebenjang yang hendak melakukan pertarungan. Hal yang cukup menarik dalam Benjang adalah tidak adanya kelas dalam peraturan pertandingannya. Siapapun petarung yang memiliki nyali boleh memasuki gelanggang pertandingan. Adakalanya terlihat petarung mendapat lawan yang jauh lebih tinggi dan besar dibandingkan dirinya. Di samping itu, tak ada batasan waktu dalam Benjang. Pertandingan dinyatakan usai ketika salah satu dari petarung tersebut dapat menjatuhkan lawan yang dihadapinya.

Foto Oleh Agus Bebeng
Hari perlahan mulai merangkak naik, pertarungan demi pertarungan terlihat kian memanas. Tetabuhan itu masih terdengar kencang menggema dan Benjang terlihat terus bergelut tak kenal henti. Badan-badan perkasa bermandikan keringat itu tak lelah bergumul, mewartakan sebuah warisan yang tak akan pernah lekang dimakan jaman.

1 komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails