Oto Iskandar di Nata (Otista) adalah penganjur
Persatuan Indonesia yang sejati dengan mempertahankan pelestarian dan
pengembangan budaya lokal—yang kemudian dikenal sebagai nasionalisme yang
mengakar. Di tangan Otista, kepentingan masyarakat Sunda diperjuangkan melalui
Paguyuban Pasundan (PP). Saat dipimpin Otista, organisasi ini menjelma sebagai civil
society yang memiliki lebih dari 50 cabang… (hal 135).
Lelaki kelahiran
Bojongsoang, Bandung, 31 Maret 1897, memang dikenal dengan kritikannya yang
pedas dan suaranya yang keras. Hal ini pula yang membuatnya dijuluki Si Jalak
Harupat, ayam jago yang keras dan tajam menghantam lawan, kencang berkokok dan
selalu menang jika diadu. Julukan ini dilontarkan oleh Wirasendjaja, guru HIS
Cianjur, kakak Soetisna Sendjaja, pemimpin redaksi pertama surat kabar
Sipatahoenan.
Siapakah Otista sebenarnya? Mengapa ia seakan menjadi pahlawan yang justru pelan-pelan terlupakan? Catatan sejarah mungkin hanya menyebutkan bahwa ia diculik dan dibunuh oleh segerombolan pemuda pada penghujung 1945, namun siapakah ia sebenarnya dan mengapa ia dibunuh secara kejam serta mayatnya dibiarkan hanyut di lautan masih merupakan sebuah tanda tanya besar yang sampai kini pun belum memiliki jawaban memuaskan.
Kontroversi kehidupan pahlawan yang juga disebut-sebut sebagai “Bapak Sunda Modern” ini memang masih menjadi misteri yang belum terpecahkan sampai saat ini. Namun sebenarnya buku karangan Iip D. Yahya ini lebih menyoroti sepak terjang Otista pada masa hidupnya. Bahkan, di dalam bukunya, Iip menuliskan bahwa Otista, melalui Paguyuban Pasundan (PP) yang dipimpinnya sejak 1931, terus-menerus menggelorakan semangat kemerdekaan melalui persatuan, kedisiplinan, dan kesungguhan bekerja. Sebuah catatan sejarah yang mencoba mengungkapkan ketokohan Otista yang belum terceritakan selama ini.
(Nugraha Sugiarta)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar