Setiap Lebaran tiba, fenomena
mudik selalu mengiringi. Antrian panjang kendaraan yang mengular selalu menjadi
pemandangan khas. Mudik bagi sebagian orang bahkan dihukumkan wajib, kalau
sampai tidak pulang ke kampung, desa, atau kota asal pada saat lebaran tiba
serasa tidak afdhol. Tak peduli dengan rintangannya, mudik kerap menjadi
prioritas utama. Tradisi mudik secara sosial kultural memang memiliki makna
tersendiri, bagi para perantau saat mudik adalah saat untuk menunjukkan
eksistensi keberhasilannya diperantauan, sekaligus juga ajang berbagi kepada
sanak saudara yang ada. Perihal berbgai inilah kemudian yang menjadi penting,
sebuah cerminan masyarakat Indonesia yang diliputi sikap kebersamaan saling
peduli dengan sesamanya. Tidak ada lagi sekat-sekat kesenjangan karena semua
strata sosial dalam masyarakat berbaur. Ketika itu rakyat jelata saling
bersalaman dengan pimpinannya, kaum fakir saling berkunjung dengan ulama
panutannya. Menjumpai kemacetan yang sama, menikmati hari raya dengan
kegembiraan yang bermakna seragam.
Dalam tradisi mudik, masyarakat rela mengantre tiket
selama beberapa hari. Memang, beban yang paling berat yang dihadapi dalam mudik
adalah masalah transportasi karena secara bersamaan jumlah masyarakat pengguna kendaraan umum atau kendaraan melalui
jaringan jalan yang ada sehingga sering mengakibatkan pengguna jalan menghadapi kemacetan yang begitu hebat. Akan tetapi, bagi sebagian
kalangan, baik yang menggunakan kendaraan umum ataupun pemilik kendaraan
pribadi, justru kemacetan yang dihadapinya menjadi semacam hiburan unik yang
begitu dinikmati dan diresapi sepanjang perjalanan menuju kampung halaman.
Mudik sebenarnya berhubungan
dengan budaya Jawa. Bahkan ia telah ada sejak jaman Majapahit. Pada masa itu, kegiatan
mudik menjadi tradisi besar yang dilakukan oleh warga kerajaan. Setiap tahun
masyarakat beramai-ramai dari seluruh negeri yang pada saat itu berada dalam
wilayah kerajaan majapahit menuju ke pulau Jawa yang merupakan pusat
pemerintahan. Apabila dikaitkan dengan unsure filosofis, mudik sendiri menjadi
semacam serep atau tempat
berjaga-jaga. Ini berkaitan dengan sifat samadya
masyarakat Jawa yang berarti tidak total atau setengah-setengah. Artinya,
seseorang yang merantau tidak bisa sepenuhnya melupakan hal yang lama dalam hal
ini kampung halaman. Sifat samadya
di sini pada akhirnya juga berpengaruh terhadap adaptasi seseorang di tempat
yang baru. Hal ini mengakibatkan pekerjaan yang dilakukan oleh seorang individu
tidak total atau setengah-setengah karena tidak berkonsentrasi akibat
terikatnya ia dengan nilai-nilai lama. Oleh karena itu, mudik dianggap salah
satu keperluan vital sang pemilik sifat.
Adapula yang mengatakan bahwa
mudik sebenarnya berasal dari kata udik yang artinya adalah desa. Dengan
demikian, mudik dimaknai sebagai kegiatan hijrah ke desa setelah setahun penuh
mengais rejeki di kota dan Lebaran dijadikan alasan momentum untuk melaksanakan
kegiatan mudik tersebut. Namun, satu hal yang pasti, sejatinya, mudik adalah
tindakan kembali ke asal di mana kenangan-kenangan indah bertabur di sana.
Begitulah wajah tradisi kita. Mudik senantiasa menjadi fenomena yang tak
terpisahkan dari perayaan lebaran sebagai hari kemenangan setelah sebulan penuh
berpuasa. Warga tidak segan-segan merogoh kocek yang besar demi memenuhi
kerinduan kembali ke kampung halaman. Mereka rela mengantri berjam-jam,
berdesakan, tidur di lokasi kendaraan transportasi, demi sebait makna
silaturahmi. Ibarat pepatah mengatakan, lebaran tanpa pulang kampung seolah sayur
tanpa garam. Nah, sudah siap-siap ingin mudik? Jangan lupa siapkan stamina
sepanjang perjalanan dan sampaikan salam terhangat untuk keluarga nun jauh di
sana!

Tapi rasanya, dari tahun ke tahun banyak yang memutuskan nggak mudik, atau setidaknya menundanya. Buktinya, momen-momen kota menjadi sepi dan nyaman saat Lebaran semakin sebentar saja. Dulu, jalan-jalan di kota bisa lima hari sepi, lancaaaar. Sekarang? Paling sepinya cuma 2-3 hari. Itu pun nggak sepi-sepi amat. Masih macet juga. -_-
BalasHapusArtikle yang sangat keren, semoga sukses selalu
BalasHapusIngin Liburan Ke karimun jawa dengan aman dan nyaman di karimunjawa ? Ingin Paket Wisata Karimunjawa dan gak murahan? Hubungi Kami "Raja Karimunjawa" biro lokal asli paket wisata Karimunjawa . Untuk Book Paket Karimunjawa dan Tour Karimunjawa , silahkan hubungi kami karena kami biro karimunjawa dan trevel karimunjawa terpercaya. Paket wisata karimunjawa Murah tapi mewah, murah tapi gak murahan. Kepuasan Wisata Karimunjawa anda di pulau Karimunjawa adalah kebahagia'an dan tujuan kami. Terimakasih telah mempercayakan paket wisata karimunjawa bersama kami Agen Wisata Karimunjawa dan mebel jepara. silahkan Untuk booking paket lebaran karimunjawa dan paket tahun baru karimunjawa