Siapa yang tidak mengenal
tari jaipongan? Tari yang sempat dihebohkan oleh Gubernur Jawa Barat karena
gerakannya yang dianggap mengumbar birahi merupakan tari paling populer di
tanah Sunda. Gerak-gerik penarinya memang harus diakui begitu luwes menggambarkan
kekenesan perempuan dengan lenggak-lenggoknya yang menggoda. Namun, jika
menyebut tari Kandagan, mungkin sebagian besar dari kita akan mengernyitkan
dahi. Mencoba-coba mengingat mengenai kata “Kandagan”.
Memang, sebagai salah satu
seni tari yang berasal dari ranah parahyangan, tari Kandagan sedikit berbeda
dengan tari-tari yang sudah ada. Tari ini dapat dikatakan sebagai salah satu
bentuk tari yang justru menggambarkan sisi maskulinitas dari perempuan Sunda.
Oleh karenanya, banyak yang menyebut bahwa tari ini adalah jenis tari putri
yang gagah. Hal ini terlihat dari sikap gerak atau gestur dan juga kostum yang
dipakai oleh penarinya.
Tari Kandagan merupakan
jenis tari yang baru dikembangkan. Secara historis, ia merupakan pengembangan
dari tari Renggagini yang diciptakan oleh Tjeje Soemantri pada medio 1957. Adapun Tari Kandagan mempunyai kekayaan gerak
yang beragam yang dibangun oleh gerak pokok dan gerak peralihan. Selain itu,
untuk belajar menari tari Kandagan dibutuhkan sikap dan gerak sebagai pola yang
mendorong ke pertunjukannya. Seperti sikap kepala, badan, kaki, dan tangan.
Begitu juga gerak kepala, badan, kaki dan tangan.
Tentu saja, mengamati tari
yang satu ini bukan sekadar mengamati salah satu genre tari yang ada di Jawa
Barat. Lebih dari itu, tari ini kemudian memberikan pemahaman mengenai
bagaimana perempuan Sunda pun sebenarnya memiliki sisi-sisi kehidupan yang
selama ini kerap tak teramati. Melalui tari ini, kita akan lebih menghargai
tentang sosok seorang perempuan Sunda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar