Kawasan Cikapayang
tepatnya di bawah jalan layang malam itu cukup ramai. Beberapa wajah dengan
make up yang sudah dapat ditebak tengah beraksi. Ya, pada Jumat 22 Maret lalu
2013 lalu, sekelompok muda-mudi yang menamakan dirinya sebagai Mime Artist
Association memang tengah menampilkan pertunjukan pantomim untuk memperingati
hari pantomim sedunia.
| Foto by Agus Bebeng |
Satu hal yang unik
terasa adalah peringatan ini bersamaan pula dengan peringatan hari hutan
sedunia, walhasil, pertunjukan yang ditampilkan memberikan sajian tentang
refleksi manusia terhadap hutan di kota Bandung. Ya (lagi-lagi), isu mengenai
Hutan Babakan Siliwangi sebagai satu-satunya hutan kota yang ada di Bandung.
Lepas dari itu semua, pantomim memang dapat dikatakan sebagai salah satu cabang
seni pertunjukan yang mungkin selama ini cukup populer. Kepopuleran pantomim sendiri terletak pada
cara penampilannya yang unik dan menampilkan gerak serta mimik wajah sebagai
pengganti dialog. Di samping itu, make up tebal menjadi salah satu ciri yang
tak bisa dilepas dari para aktor pantomim.
Sebagai salah satu
genre yang cukup populer di dunia seni, pantomim telah ada semenjak jaman mesir
kuno. Aristoteles, seorang filsuf terkenal, bahkan menuliskan di dalam catatannya
bahwa teori tentang tuanya usia pantomim dapat dibuktikan dengan adanya
relief-relief candi dan piramida yang menggambarkan seorang perempuan dan
lelaki yang sedang melakukan sebuah gerakan dan diduga gerakan tersebut
bukanlah tarian namun sebuah gerakan pantomim.
Pada perkembangannya, pantomim
yang benar-benar menggunakan bahasa isyarat sebagai kekuatannya berkembang
menjadi pertunjukan komedi tanpa kata-kata. Tentu saja, meski banyak
ditampilkan dalam bentuk komedi, pantomim sendiri sebenarnya tidak membatasi
diri pada pertunjukan yang sekadar mengundang tawa. Adalah industri film bisu
yang marak di era 1900-an yang membuat pantomim menemui puncak ketenarannya. Charlie
Chaplin yang menampilkan seni pantomim dalam sebuah film bisu berjudul The
Tramps dengan cepat menyebarkan virus pantomim ke seluruh antero dunia. Pada
masa itu, nyaris seluruh film-film yang menampilkan aksi teatrikal ala pantomim
yang dibintangi oleh Charlie Chaplin selalu membuat penuh gedung bioskop dan
mencetak box office.
Kembali lagi pada
pertunjukan di Cikapayang malam itu. Dalam kapasitasnya sebagai sebuah
peringatan, meski tak segegap-gempita Pemilukada Walikota Bandung yang sebentar
lagi akan diselenggarakan, peringatan hari pantomim sedunia ini lalu setidaknya
telah berhasil mengingatkan para pecinta seni bahwa seni ini telah sedemikian
berkembang jauh. Ia telah mampu menelusup ke dalam segala ranah kehidupan.
Entah itu dalam bungkus humor maupun sebagai bentuk ekspresi kritik sosial yang
cukup mengena.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar