Taman bacaan, perpustakaan.
rumah baca, atau apapun namanya, semua berkaitan dengan buku dan kegiatan
membaca. Sebenarnya, Apa yang melintas sekiranya jika seseorang mendengar kata
taman bacaan? Semua orang tentu mahfum benar jika mendengarnya, namun tak semua
orang pernah mengunjungi sebuah taman bacaan. Tak terkecuali pula halnya dengan
anak-anak. Taman bacaan menjadi hal yang asing dan tertindas oleh perkembangan
teknologi yang semakin banyak sekaligus membuai. Padahal, taman bacaan adalah
sebuah sarana murah meriah sekaligus berguna untuk menambah khazanah
pengetahuan bagi siapapun yang rajin mengunjunginya.
Paradigma
berpikir masyarakat Indonesia yang cenderung menganggap membaca bukanlah satu
bentuk hiburan dijamin akan luntur sedikit demi sedikit jika kita “bermain” ke
taman bacaan. Pasalnya, ketika seseorang membaca, daya imajinasinya akan
bertambah seiring larutnya ia ke dalam bacaan yang tengah ditekuninya. Di
samping itu, dengan mendatangi taman bacaan, maka sang anak akan lebih dapat
berinteraksi dengan rekan sebayanya dan mendapat sahabat baru.
Taman
bacaan sendiri sebenarnya merupakan salah satu program riil (meski terlihat
semu) dari Direktorat Pembinaan Budaya Baca, Direktorat Jenderal Pendidikan
Luas Sekolah (PLS), Depdiknas. Menurut data resmi, sampai kini, ada sekitar
5000 Taman Bacaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Masih kurang memang, jauh dari harapan.
Keberadaan
taman bacaan sendiri kini telah cukup menjamur di Bandung dan kota-kota besar
lainnya. Dengan harga sewa mulai dari seribu rupiah per buku, ratusan buku
dapat dipinjam dengan mudah. Walau sebagian besar minat yang ditunjukkan baru
sebatas buku hiburan seperti komik dan novel, ini menjadi sebuah indikasi
pertumbuhan minat baca masyarakat. Tengok saja aktivitas gadis kecil bernama Vera
yang tak sengaja saya temui di sebuah taman bacaan mungil yang terletak di
salah satu sudut kota Kembang. Murid kelas enam SD ini mengaku tak memerlukan
waktu dan jarak tempuh yang lama untuk mencapai sebuah taman bacaan yang
terletak tak jauh dari rumahnya. Awalnya, ia mendatangi taman bacaan karena
ingin membaca komik, namun lama kelamaan, bacaan yang dibacanya pun kian
berbobot. Seri-seri buku seperti “Sepuluh Tokoh Dunia“ atau “Kisah Para Nabi”
kini seolah menjadi kebutuhannya sehari-hari, apalagi ketika waktu libur
menjelang.
“Aku
emang senang membaca, makanya sering main ke taman bacaan ini. Lagian di sini
aku juga bisa ketemu banyak teman-teman baru yang sama-sama punya hobi
membaca,” ucap Vera lincah menerangkan mengapa ia begitu rajin mendatangi taman
bacaan.
Seorang
perempuan manis berkerudung yang sedari tadi memerhatikan obrolan kami kemudian
menyapa ramah. Pemilik nama Diana Novita mengaku telah satu tahun menjalankan
roda taman bacaan tersebut. “Ya, saya melihat rendahnya minat baca masyarakat.
Oleh karenanya, saya kemudian mendirikan taman bacaan ini, ungkapnya ramah.
Diana mengakui bahwa untuk saat ini, taman bacaan miliknya memang hanya
menyediakan buku-buku bacaan untuk usia SD dan SMP. “Mereka masih memiliki usia
yang panjang. Proses pemupukan kesadaran membaca sedari dini inilah yang
membuat saya memilih membuka taman bacaan untuk usia 10-15 tahun ini. Sebagai
generasi muda, mereka akan menyebarkan budaya senang membaca dengan rentang
waktu yang cukup panjang. Saya yakin, jika taman bacaan semakin banyak, maka 20
atau 30 tahun lagi Indonesia akan dipenuhi oleh orang-orang yang gemar
membaca,” ungkap Diana menjelaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar