Bermula dari kunjungan
penuh penasaran ke sebuah toko, dimulailah petualangan Mega bersama JerukLemonJeruk
di kancah persilatan handmade. Dengan gigih, Mega mulai mempelajari semuanya
dari nol. Learning by doing. Siapa
nyana, kini JerukLemonJeruk telah sedemikian hebat menyerbu para pecinta
karya-karya handmade.
Mega,
kan, banyak membuat karya ronce. Apa, sih, sebenarnya yang menarik dari
aktivitas meronce itu sendiri?
Saya suka sekali dengan
segala jenis aksesoris, baik itu perhiasan sampai ke aksesoris unik kreasi para
crafter. Rasa ingin tahu bagaimana cara membuatnya, mendorong saya untuk mampir
ke beberapa toko yang menjual peralatan dan bahan-bahan untuk meronce. Lantas
saya tanya ke penjaga toko, saya harus punya alat apa saja untuk pemula yang baru
mau belajar. Saya memberanikan diri untuk menjual roncean-roncean pertama
melalui Facebook pribadi. Saat itu mulai banyak online selling dan teman-teman
handmade crafter mulai bermunculan. Karena saya masih baru dalam online
selling, saya juga sempat mencoba untuk menjual produk selain karya roncean
saya sebagai proses belajar mengenal dunia online selling. Saya mulai menikmati
aktivitas meronce dan mulai memilah bahan-bahan apa saja yang saya gunakan,
yaitu mutiara air tawar, batu alam, metal dan beads. Konsep desain yang saya
buat adalah simple, abadi, nyentrik
dan one of a kind. Enggak ada yang
nyamain. Apalagi saya mendapat tantangan dari beberapa pembeli koleksi saya (saya
menyebutnya craft lovers) untuk dibuatkan
aksesoris seperti yang mereka imajinasikan. Senang sekali ketika mendengar atau
membaca komentar mereka ketika aksesoris yang mereka pesan sesuai dengan
keinginannya.
Oh,
ya. Selain karya ronce, apa aja, sih, sebenarnya yang dibuat oleh Mega?
Selain karya ronce,
saya juga tertarik dengan syal atau kerudung, pakaian, tas, dan lain-lain. Saya
suka sekali dengan motif-motif kain dan padu padannya. Saya masih harus banyak
belajar. Karena latar belakang saya adalah desainer interior, saya juga punya impian
untuk merambah dengan koleksi-koleksi untuk interior seperti sarung bantal (cushion cover). Satu hal yang saya
pelajari ketika kuliah bahwa “A designer
is not a single fighter”. Seorang desainer pasti memerlukan kreatif-kreatif
lainnya dalam mewujudkan sebuah ide
desain. Perlahan saya mulai bekerja sama dengan crafter-crafter lain untuk
mewujudkannya.
Agak-agak
bingung, nih. Brand yang dimiliki Mega Ada Initu Tuini terus ada juga
JerukLemonJeruk. Makhluk-makhluk apa gerangan, tuh, ceritain yah.. hehehe…
Setelah mencoba
merambah online selling, saya mulai memikirkan tentang brand yang harus saya
cantumkan untuk hasil karya ronce saya. Terlintaslah JerukLemonJeruk. Beberapa
teman-teman juga sering bertanya, “Kenapa harus JerukLemonJeruk? Kenapa gak
nama yang lebih manis, lebih perempuan?”. Di antara sekian banyak online
seller, saya membutuhkan suatu nama yang mudah diingat, catchy, dan mudah penyebutannya. Koleksi karya ronce saya tidak
selalu “girly”, beberapa desain saya
juga agak nyentrik, dan kadang saya juga berpikir untuk membuat aksesoris yang
bisa dipakai untuk pria juga. JerukLemonJeruk memberikan kesan fresh, segar. Selain itu, penyebutan
jeruk dua kali juga untuk menghindari kemiripan nama di pasaran. Lantas apakah
Initu Tuini? Initu Tuini adalah nama Facebook online shop saya atau toko
didunia mayanya lah, yang didalamnya bukan hanya hasil karya ronce aksesoris
saya saja, tetapi juga menyajikan koleksi handmade ini itu ini itu.
Sebenarnya,
apa yang membuat Mega tertarik dengan dunia handmade?
Ketika suatu produk
dibuat secara massal, mungkin produk tersebut bisa menjadi murah dan bisa
dibeli oleh siapa saja. Namun karena produk tersebut massal, kita akan bertemu
dengan banyak orang yang menggunakan produk yang sama. Sedangkan handmade
dibuat satu satuan saja. Kalaupun ada yang kasat mata terlihat serupa, tapi
pasti ada yang membedakan. Hasil karya handmade pasti special dan tidak ada yang nyamain. Oleh karena itu saya suka
sekali dengan dunia handmade. Saya suka tampil beda. Saya menyukai sebuah
istilah “when it’s handmade, it’s
personal”. Setiap karya handmade
yang dibuat dalam bentuk apapun pasti ada sisi personal yang menjadi kekhasan
dari si crafter maupun si pecinta karya tersebut.
Tantangan
terbesar apa yang harus dihadapi Mega sebagai seorang crafter?
Tantangan terbesar
untuk seorang crafter ketika seseorang menganggap sebelah mata sebuah hasil
karya handmade tidak jarang lebih memilih produk KW yang lebih murah. Secara
global, semudah apapun, se-simple,
serumit apapun bahkan seindah dan semurah atau semahal apapun sebuah karya
seorang crafter, akan sangat senang sekali apabila bisa dihargai meskipun bukan
berarti harus membeli. Oleh karena itu, saya berusaha untuk membuat karya yang “reasonable”, memiliki alasan kenapa dan
logis. Kenapa bisa mahal, kenapa bisa murah.
Balik
lagi, nih, ke karya-karya yang Mega buat. Ketika berkarya, darimana, nih, Mega
mendapat inspirasi dan idenya?
Ide dan inspirasi bisa
datang dari mana saja. Dari koleksi aksesoris ibu, dari melihat pameran,
website, youtube, film, buku, ngobrol bahkan sedang santai pun suka timbul ide.
Saya suka membayangkan dipikiran saya bagaimana cara membuatnya ketika saya
sedang memikirkan untuk membuat sebuah desain, atau ketika saya sedang melihat
karya seorang crafter. Bertanya, memperhatikan dan trial error sebelum dijual. Bahkan dari trial error itu sendiri kadang menimbulkan ide baru.
Apa
hasrat terbesar yang dimiliki Mega dengan karya-karyanya?
Hasrat terbesar adalah
karya-karya crafter mulai dicintai, mengembangkan kreasi-kreasi baru, berani untuk “think outside the box” dan Insya
Allah suatu hari nanti bisa membuka galeri handmade dan dikenal karena hasil
karya handmade.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar