Sebuah kesalahan besar ketika membaca judul di atas dan berpikir bawah tulisan ini adalah semacam cerita tentang pendekar bernama Pasir Angin. Ini adalah cerita napak tilas tentang masa ribuan tahun lalu ketika sejarah belum lagi tercatat dalam tulisan-tulisan. Situs Pasir Angin, demikian ia kini dinamai. Situs ini terletak di Bogor, tepatnya di Kecamatan Cibungbulang, tak begitu jauh dari sejuknya aliran sungai Cianten. Memang, Bogor sedari dulu telah terkenal dengan peninggalan artefaktual yang diilikinya, mulai dari peninggalan masa pra sejarah sampai pada peninggalan masa kolonial. Pasir Angin sendiri berasal dari kata pasir yang berarti bukit. Dalam terjemahan bebas, Pasir Angin dapat diartikan sebagai bukin yang banyak angin atau bukit berangin.
Situs ini sendiri
berbentuk sebuah batu monolit setinggi
1,2 meter yang konon dahulu digunakan sebagai alat pemujaan. Sekilas, tak ada
yang aneh dengan penampakan sang batu yang di atasnya berbidang datar tersebut,
namun para ahli justru menemukan hal menarik dari bentuk datar dan posisinya
yang berada tak jauh dari sungai. Berdasarkan penelitian, situs ini merupakan
salah satu tempat utama di masanya untuk melakukan ritual pemujaan terhadap
arwah leluhur.
Pada penelitian yang
dilakukan di medio 1970-1975 silam, di sekitar batu tersebut, ditemukan beragam
artefak yang terbuat dari besi, perunggu, tanah liat, kaca, serta obsidian.
Benda-benda purbakala yang ditemukan di tempat ini antara lain kapak (corong,
besi, perunggu), beliung persegi, tongkat persegi, manik-manik batu dan kaca,
tombak, gerabah, dan alat-alat obsidian. Berdasarkan temuan tersebut,
diperkirakan situs ini sendiri dibuat pada masa logam awal alias pada masa
perunggu sekitar tahun 600-200 sebelum masehi.
Keberadaan perunggu
sendiri di Indonesia berdasarkan pendapat seorang peneliti Belanda, Van Hekern,
berasal dari Asia Tenggara daratan. Perunggu pada masa itu merupakan barang
berharga yang hanya dimiliki oleh para penguasa dan tokoh masyarakat. Adapun
kelompok rakyat biasa umumnya hanya menggunakan peralatan-peralatan yang
terbuat dari batu-batuan.
Satu hal yang unik, segala
peralatan yang ditemukan itu kesemuanya berada dalam posisi membujur dari barat
ke timur. Hal ini pulalah yang kemudian memberikan asumsi bahwa Pasir Angin
merupakan situs yang dipergunakan sebagai tempat pemujaan. Konon, posisi
barat-timur yang sedemikian teratur itu adalah simbol yang digunakan untuk
menunjukkan bahwa hidup adalah seperti matahari. Timur sebagai tempat matahari
terbit adalah simbol dari awal mulanya kehidupan, sedangkan barat sebagai
tempat matahari tenggelam merupakan simbol dari kematian. Sebuah akhir dari
kehidupan.
Berdasarkan tingginya
nilai sejarah yang dimiliki oleh situs Pasir Angin, pemerintah setempat
kemudian pada tahun 1972 mendirikan kompleks museum purbakala yang berada tak
jauh dari tempat keberadaan situs tersebut. Hanya saja, museum terbesar yang
ada di Bogor tersebut, seperti halnya benda-benda bersejarah di Indonesia,
kurang mendapat perhatian serius. Meski demikian, tentu tak ada salahnya jika
sesekali jika tengah berada di Bogor, datanglah ke situs Pasir Angin untuk
sekadar menemui sang mesin waktu yang dapat kembali membawa kita ke masa silam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar