Penghujung abad ke-18,
terjadi perubahan besar di dunia. Beragam penemuan-penemuan yang spektakuler di
masanya bermunculan. Inilah masa di mana dengan cepat tenaga manusia dan juga
hewan yang telah ratusan tahun merupakan tumpuan dalam dunia industri mulai
tergantikan oleh mesin-mesin. Hal ini tentu tidak lepas dari revolusi di bidang
ilmu pengetahuan yang melambungkan nama-nama ilmuwan seperti Francis Bacon atau
Rene Decartes. Munculnya berbagai lembaga-lembaga riset yang menjadi wadah para
ilmuwan ini juga menjadi pemicu berkembang pesatnya ilmu pengetahuan yang
berdampak pada kelahiran revolusi industri. Ekonomi gaya liberal yang
melahirkan kelompok-kelompok kapital yang berujud pada kongsi-kongsi dagang
seperti EIC, Virginia Co, atau Plymouth Co kemudian menjadi penguat dari
produk-produk bergaya massal yang banyak mematikan industri-industri rumahan
dan skala kecil di kala itu.
Tentu, tak
semerta-merta gaya ekonomi liberal menjadi biang kerok dari kesemuanya. Ia
muncul sebagai reaksi atas paham ekonomi merkantilisme yang menggariskan bahwa
kegiatan dan sistem ekonomi diatur oleh negara. Hanya saja, perubahan peta
ekonomi dan pola pikir industri yang kemudian berputar dengan demikian cepat
menghasilkan permasalahan baru, mulai dari gejolak urbanisasi yang tak
terbendung, permasalahan upah buruh yang sangat rendah, hingga yang paling
dramatis pada kacamata seni adalah matinya estetika dan keluhuran nilai-nilai
seni yang terkandung dalam sebuah produk. Permasalahan yang bahkan sampai saat
ini masih nyata terasa.
Adalah John Ruskin dan
William Morris yang dapat dikatakan sebagai pelopor dari gerakan perlawanan
terhadap industrialisasi besar-besaran yang tengah marak terjadi pada masa
revolusi industri. Ruskin rajin melakukan kritik terhadap revolusi industri
yang dikatakannya membuat kualitas seni dan desain mengalami penurunan yang
signifikan. Masih menurutnya, pembuatan barang-barang dekoratif dengan
menggunakan mesin-mesin industri telah menyebabkan hilangnya sentuhan seni
dalam produk-produk yang dihasilkan. Pola pikir Ruskin ini kemudian
diterjemahkan oleh Morris dengan membuat berbagai karya seni yang murni hanya dibuat
menggunakan tangan. Dengan cepat, apa yang dilakukan oleh kedua pelopor ini
menyebarluas dan kemudian melahirkan apa yang disebut dengan Art & Craft
Movement, sebuah gerakan yang bersandar pada pemahaman bahwa perlunya
menjunjung tinggi komitmen kerja dan keindahan. Estetika tidak bisa begitu saja
lahir dengan cara yang sedemikian instan dan massal. Ciri utama gerakan ini
adalah karya seni dibuat secara individu oleh seniman dengan sentuhan artistik
yang khas. Karya-karya tersebut digarap dengan serius hanya dengan menggunakan
tangan atau yang kini dikenal dengan istilah “handmade”.
Di Eropa, berbagai
pameran seni yang mengutamakan kualitas dan kejujuran dalam berkarya kemudian
menjadi tren. Tak mau ketinggalan, para seniman di Rusia beberapa seniman
bersekutu untuk melahirkan karya-karya seni dekoratif yang terpengaruh kuat
oleh gerakan seni era medieval sehingga menghasilkan ciri sendiri serta
terlepas dari ciri Art & Craft Movement di Inggris. Pun demikian halnya
dengan Amerika. Muncul berbagai interpretasi baru terhadap gerakan pembaharuan
seni yang disesuaikan dengan pasar Amerika, pasar yang kadung di cap sangat
borjuis. Studio-studio seni lalu lahir di berbagai pusat kota besar di Amerika.
Setelah berabad-abad,
gerakan ini memberi stimulan yang cukup kuat bagi para pelaku seni dan pegiat
industri skala kecil. Pola-pola karya handmade
mulai mendapat porsi yang besar di kalangan awam, bahkan berharga jauh
lebih mahal dibandingkan produk-produk massal. Demikian pula halnya dengan di
Indonesia. Meski belum sehebat dan sebombastis apa yang terjadi di
negara-negara pelopornya, namun sebagai gerakan antitesis dari industri skala
besar yang sebagian besar telah menjatuhkan nilai-nilai seni, ia terus
bermunculan mencari peluang di tengah hiruk-pikuk suara mesin yang tak pernah
berhenti bersuara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar