Pernah menembus jalur
perjalanan menuju Priangan Timur? Berkendara selama kurang lebih tiga jam dari
Bandung atau sekitar lima jam dari Ibukota, kita akan menemui sebuah kota yang
cukup dikenal dengan berbagai bentuk kerajinan yang dimilikinya, Tasikmalaya.
Kota yang satu ini memang cukup populer dikenal sebagai salah satu kota di Jawa
Barat yang banyak menghasilkan beragam jenis kerajinan semisal payung,
anyam-anyaman, dan mungkin yang paling masyur di antara meski kini mulai jarang
ditemui adalah sandal yang akrab dinamai kelom
geulis dan mulai populer beredar dari kaki ke kaki semenjak tahun tiga
puluhan. Pada masanya, kelom geulis menjadi
ikon perempuan berkelas dan banyak dipakai oleh kelompok aristokrat serta
noni-noni Belanda. Konon, kata kelom berasal
dari bahasa belanda kelompen yang
memiliki arti alas kaki yang digunakan pada musim dingin. Adapun geulis sendiri diambil dari bahasa Sunda
yang berarti cantik. Ya, secara harfiah, kelom
geulis memanglah sandal yang dibuat dengan sedemikian rupa sehingga
memiliki penampakan yang sangat menarik.
Popularitas sandal yang
satu ini kemudian sempat mendunia ketika seorang fotografer London memfoto
putri duta besar Indonesia untuk Inggris pada tahun lima puluhan yang tengah
merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus lalu memajang foto tumit sang pemakai
pada harian Evening Standard.
Gara-gara foto tersebut, seluruh London mengenal kelom geulis.
Kelom
Geulis sendiri dibuat dari kayu mahoni atau albasia yang
dipotong sesuai dengan bentuk alas kaki dan kemudian dirapikan serta diserut
dengan menggunakan golok atau pisau. Agar ia dapat tahan lama, kayu yang telah
dibentuk tersebut dijemur sehingga kadar air yang dimilikinya berkurang.
Selesai? Tentu saja belum. Usai dikeringkan, sandal yang keseluruhan proses
pembuatannya ini nyaris manual tersebut
dihaluskan dengan gerinda dan diberi cat dasar. Pada bagian atasnya lalu diberi
tali yang biasanya berupa tali beludru atau tali kulit. Untuk memercantik
penampilannya, kelom geulis kemudian
dihias dengan diberi ukiran yang biasanya berupa ukir-ukiran bunga. Namun,
seiring perkembangan jaman, teknik air
brush pun mulai digunakan untuk menghiasinya.
Pada masa kini, kelom geulis cenderung diproduksi secara
rumahan. Serangan mode yang yang cukup membabi-buta menerjang dari segala
penjuru membuat kelom geulis mungkin
tak lagi sepopuler dahulu seperti pada masa kejayaannya. Meski demikian, nilai
ekslusif yang dimilikinya membuat ia masih dapat bertahan, bahkan telah pula
menyeberang ke berbagai negara di Asia dan Eropa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar