Surya hari itu bersinar dengan
cukup cerah mengantarkan pertemuan kami dengan dua lelaki pecinta motor klasik,
Uki dan Kijing. Menemui kedua lelaki ini, saya seakan-akan di bawa kembali pada
era 70-an di masa keemasan aktor Roy Marten ketika membintangi film “Ali Topan
Anak Jalanan” lengkap dengan rambut gondrongnya. Motor-motor pabrikan negeri
Sakura adalah kuda besi yang menjadi tunggangan pilihan kedua karib ini.
Uki mengakui bahwa pada awalnya ia
menggunakan motor-motor tua produk Eropa, namun kemudian, seiring proses
perjalanan hidupnya ia malah beralih dan jatuh cinta kepada motor-motor tempo
dulu dari Jepang.
“ Karakternya sesuai dengan saya,
dan lagi mesinnya kuat serta lebih nyaman dikendarai, teknologi yang
digunakannya pun sama dengan motor-motor jaman sekarang. Dari segi tenaga, ia
tak kalah dengan motor-motor lainnya, selain itu spare partnya masih banyak
bertebaran di tempat-tempat loakan seperti di Jatayu atau Pasar Pelana,” jelas
lelaki ini menjelaskan ihwal kecintaannya terhadap motor tersebut. Demikian
pula halnya dengan Kijing, di samping harganya yang murah dan kendaraannya yang
bersahabat sekaligus hemat energi, faktor teknologi itu pula yang membuatnya
gemar memiliki motor tua Jepang.
Uki dan Kijing lalu bercerita pula
masalah perburuan motor jenis ini yang cukup mengasyikkan. “ Kita harus
pintar-pintar mencari jika menginginkannya. Biasanya sih kalau kita di jalan
menemui orang yang tengah mengendarai motor tua yang bagus maka akan kami kejar
dan langsung ditawar di tempat,” ujar keduanya membuka rahasia perburuan.
“Intinya dibutuhkan kesabaran,
karena banyak orang yang terburu nafsu ketika mencari motor tua, akhirnya ia
harus mengeluarkan uang dalam nominal yang cukup besar, padahal jika mencari
dengan teliti ia bisa mendapatkan barang yang sama dengan harga yang jauh lebih
murah, apalagi sekarang pecintanya pun semakin banyak sehingga harganya terus
melambung mengikuti permintaan pasar,” sahut Uki memberi tambahan. Lelaki
berambut gondrong ini kemudian menjelaskan pula bahwa fenomena film The Tarix
Jabrix yang cukup melejit membuat motor-motor tua Jepang semakin banyak
dilirik.
“Proses pencariannya yang cukup
sulit, ditambah nilai romansa yang dimilikinya, serta perjuangan membangun
motor dari nol sampai ia dapat kembali layak dikendarai adalah hal yang membuat
motor ini menjadi kebanggaan kami, ia laksana istri kedua bagi kami, bahkan
para pengendara motor tua seringkali memberikan nama kesayangan motor mereka,
seperti halnya saya yang menyebut motor saya dengan panggilan Joli,” ungkap
Kijing sesaat kemudian, “ motor-motor ini dalam pandangan kami seolah
bernyawa.”
“ Lelaki memang ditakdirkan untuk
dekat dengan mesin,” ujar mereka sedikit jumawa. Keduanya lalu mengatakan pula
bahwa motor tua melatih para pemiliknya untuk memiliki mental yang tangguh dan
tidak cengeng. Pemiliknya harus mau belajar mengenai mesin motor lebih banyak
ketimbang para pengguna motor biasa. Di sinilah sebuah kekuatan niat sekaligus
pembelajaran tentang perjalanan sebuah proses akan menemui ujian, anugerah terbesar
yang dapat dipetik oleh para pecinta motor klasik.
Lalu bagaimana cara yang sebaiknya
dilakukan jika hendak mencari motor jenis ini? Keduanya lalu menjelaskan bahwa
cara terbaik adalah mengobrol dengan orang yang benar-benar mengerti motor
jenis ini. Selain itu, ketika hendak membeli sebuah motor, hal pertama yang
harus dilakukan adalah melihat kondisi mesinnya, masih primakah atau sudah
bermasalah.
Body part adalah hal berikutnya
yang harus diperhatikan, “kalau spare part tak begitu masalah karena masih
banyak dijual, tapi body part berbeda, ia harus benar-benar diperhatikan karena
ini menyangkut orisinalitas,” ucap Uki kemudian. Berbicara mengenai
originalitas, Uki kemudian mengatakan bahwa niat ketika hendak membeli harus
pula dijadikan pertimbangan. Apakah kita menginginkan motor yang orisinal atau
kita hendak memvariasikan motor tersebut.
“ Istilahnya pengen yang original
atau pengen di-custom,” kali ini Kijing menyumbangkan suara, “jika memang
hendak meng-custom motor, maka kita tak usah terlalu ribet mengamati motor yang
kita incar karena toh nantinya juga ia akan dibongkar dan dibangun kembali
satu-persatu,” ia lalu melanjutkan suaranya. “ Ya… yang pasti harus rajin
hunting agar bisa memeroleh motor yang benar-benar kita inginkan,” tukas kedua
raja jalanan tersebut memberi simpulan di akhir pertemuan kami hari itu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar