Dulu sekali, saya
pernah menyaksikan sekilas sebuah film dokumenter berjudul “Situs Gunung Padang”
garapan sutradara Yogi Margana. Perjalanan kecil itu nyari saya lupakan sampai
seorang kawan di suatu hari yang tidak terlalu istimewa tiba-tiba menyodorkan
film yang dahulu hanya sekilas saya tonton itu. Kali ini saya mencoba menontont
detik-demi detik yang disajikan dalam film tersebut. Jujur saja, film dokumenter
sebenarnya bukanlah hal yang menarik minat saya. Namun sang situslah yang
membuat saya mau menonton ulang film tersebut.
Ya, sebuah film dokumenter yang menceritakan tentang situs yang berada di desa Gunung Padang dan desa Panggulan, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Ia merupakan situs megalitik bangunan batu terbesar di Asia Tenggara. Luas bangunan purbakalanya kurang lebih 900 m² dan juga luas areal situs ini sendiri kurang lebih 3 hektar. Bangunan
berundak itu terletak di atas sebuah bukit yang memanjang ke arah tenggara dan
barat laut pada ketinggian 885 m di atas permukaan laut dari perhitungan
altimeter. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam.
Adegan
demi adegan kemudian tersaji. Dimulai dari perjalanan sang pembawa acara yang
menempuh perjalanan menuju situs tersebut. Meski hanya melihatnya melalui film,
ketakjuban tetap tak bisa saya sembunyikan. Melihat batu-batu peninggalan jaman
pra sejarah yang memerlihatkan betapa sebuah peradaban pernah ada dan telah
muncul semenjak ribuan tahun lampau.
Situs Gunung Padang. Apakah itu?
Rasa penasaran dan keingintahuan saya lalu seakan muncul dengan menggebu-gebu,
mengajak untuk menelusuri Gunung Padang secara lebih mendalam. Bangunan
berundak Gunung Padang muncul dalam percaturan di bidang prasejarah sekitar
tahun 1979 setelah tiga orang penduduk menemukan misteri yang terkandung dalam
semak belukar di bukit Gunung Padang. Penduduk setempat yang bernama Endi,
Soma, dan Abidin ketika bekerja di tempat tersebut dikejutkan oleh adanya
dinding tinggi dan susunan batu-batu berbentuk balok yang oleh mereka tidak
diketahui peninggalan apakah sebenarnya.
Di sebuah lokasi sempit di dalam
lokasi ini, terdapat sekumpulan batu, ada beberapa di sana yang tergeletak
sedemikian dengan panjang lebih dari 1,5 meter dan lebar serta ketebalan lebih
dari 25 cm. Ketika batu-batu itu dipukul-pukulkan sedemikian rupa, maka
diperoleh spektrum nada-nada yang unik sekali. Terdapat kecenderungan, satu
batu menghasilkan satu frekuensi yang sama seolah tiap batu merepresentasikan
satu nada. Ini tentu merupakan penemuan yang mengejutkan! Ada instrumentasi
musik dari zaman megalitikum! Seiring perjalanan detik yang terus melaju, pada
waktu-waktu yang telah ditentukan, situs ini lalu seringkali digunakan pula
untuk bertemunya semua ketua dari dataran sunda kuno.
Pertanyaan cukup mengganggu lalu
muncul di benak saya. Sudah sedemikian tinggikah kultur bermusik pada masa-masa
pra-sejarah? Ya, semuanya sangatlah mungkin. Musik
paling tua yang pernah diketahui adalah musik tulang yang ditiup (bone
whistles) di kawasan Hemudu, Cina yang
diduga telah ada semenjak 5000-4500 SM, kemudian ada pula temuan instrumentasi
mirip harpa dan lira di kawasan Mesopotamia, Irak yang diduga telah berusia
5000 tahun. Dengan umurnya yang “baru” menginjak usia 2500 tahun, Gunung Padang
bisa jadi merupakan satu-satunya kehidupan musik purbakala yang pernah ada di
wilayah nusantara. Dari sisi ukurannya, jika ini adalah benar alat
musik kuno, maka ini merupakan alat musik yang sangat besar dan sulit
dibayangkan jika dimainkan oleh satu orang. Sangat mungkin pemainnya adalah
sekelompok orang yang secara bergantian memainkan lagu-lagu secara monofonik. Menakjubkan, pada sebuah peradaban yang
belum mengenal tulisan, sudah terdapat konsep kerja sama dalam menghasilkan
bentuk-bentuk estetika suara.
Sayang,
sebagaimana halnya cerita klasik yang kerap terdengar di tanah Nusantara, pun
demikian pula halnya dengan Situs Gunung Padang. Ketika masyarakat dan para
arkeolog begitu tertarik padanya, pemerintah seolah setengah hati
memperhatikannya. Masalah dana menjadi kambing hitam yang lalu dimunculkan
ketika ia seolah dibiarkan terbengkalai.
Usai
menyaksikan film berdurasi hampir dua jam itu, saya melangkah pulang. Seorang
pengamen yang tengah mengaso di pinggir jalan tiba-tiba mengagetkan saya.
Ditimpali gitar di tangannya, mulutnya menyanyikan sepenggal lagu wajib
berjudul Rayuan Pulau Kelapa. Indonesia sejak dulu kala, tetap di
puja-puja bangsa...




Tidak ada komentar:
Posting Komentar