Pagi masih sedikit
berkabut ketika saya melangkah ringan. Udara dingin sisa-sisa subuh membekas
menjadi embun pada tepian-tepian daun. Hari minggu memang selalu menyenangkan.
Sebuah gor di bilangan Pajajaran yang bernama sama dengan sang jalan menjadi
tujuan saya memulai hari. Awalnya tak ada maksud khusus, sekadar hanya ingin
mencari bubur ayam atau nasi kuning untuk sarapan.
Perjalanan itu hanya menghabiskan
waktu 30 menit. Segerombol muda-mudi bercampur dengan tiga pasangan paruh baya
tampak tengah asyik berjoging, seolah menyambut kedatangan saya. Deretan
penjaja makanan lalu menjadi begitu menggoda, dan akhirnya sepiring kupat tahu
khas Bandung pun saya nikmati dengan lahap sembari melihat sekeliling. Awalnya
tak ada yang istimewa dengan Gor Pajajaran, nyaris sama dengan tempat berolahraga
yang seringkali saya jumpai. Namun, semua menjadi sedikit berubah ketika
sekumpulan remaja dengan kostum basket melintas di hadapan. Tepat di belakang
mereka, dua bocah berbaju silat tampak tertawa-tawa membicarakan sesuatu yang
tak terlalu tertangkap oleh telinga. Entah mengapa, mata saya memendar melihat
sekeliling. Tak kurang dari papan perkumpulan Judo, Aikido, Silat, dan olahraga
lainnya tertangkap oleh mata. Pandangan saya berganti-ganti, menjalarkan
sesuatu di kepala. “Ini bukan sekadar tempat berolahraga!” kalimat itu melintas
begitu saja di kepala.
Rasa penasaran saya yang kian besar
pada tempat yang berkesan biasa-biasa ini kini teralih ke sebuah bangunan
berlantai dua yang terletak di sisi kiri bangunan utama. Pemandangan cukup
mencengangkan yang jarang saya lihat dalam keseharian tersaji di sana. Di
lantai pertama, sebuah kejuaraan angkat besi tengah digelar. Atlit-atlit muda
potensial tampak tengah berjuang menoreh prestasi dengan tumpahan peluh yang
tak henti mengucur. Di lantai atasnya, kompetisi gulat pun tengah digelar.
Hampir sama dengan lantai satu, ia juga menampilkan atlit-atlit junior.
Teknik-teknik bantingan dan kuncian diperagakan dengan sempurna dengan hasrat
dan semangat besar yang mencuat di tengah-tengahnya.
Sesaat nafas saya seolah berhenti.
Pikiran saya melayang pada berita-berita olahraga yang kerap berseliweran di
media cetak maupun elektronik. Kisah heroik Tentang perjuangan atlit. Kisah
dunia olahraga yang sedikit terpinggirkan di tengah deru dan laju krisis yang
juga seakan tak kenal lelah menghantam negeri ini. Lalu, melihat aktivitas pagi
di gor ini, seolah menyadarkan saya tentang perjuangan di tengah keterbatasan.
Mereka, para pelaku olahraga itu, seakan tak pernah patah semangat bergerak
maju meski mungkin apa yang nantinya mereka perjuangkan tak sepadan dengan
penghargaan yang didapatnya.
Lamat tapi pasti, saya yakin telah
mendapat pelajaran yang sangat berharga dalam perjalanan kali ini. Rasa haus
yang tiba-tiba menerpa membuat saya melangkah Pelan menuju pintu keluar.
Sebotol teh manis dalam kemasannya menemani. Para pebasket muda yang tadi
sempat berpapasan dengan saya kini tengah asyik terlihat menikmati sarapan
paginya, sepiring batagor panas yang tampak begitu nikmat.
Mungkin ini terkesan agak sepele,
tapi, sesekali, jika punya waktu luang di pagi hari, cobalah untuk mengunjungi
tempat yang satu ini. Belajar tentang sebuah semangat besar tak kenal lelah di
tengah segala keadaan yang terbatas. Mengamati tentang suatu kebanggaan yang
mungkin tak pernah melintas dalam keseharian kita yang penat oleh rutinitas
mengejar hidup.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar