Setiap ramadhan tiba,
benda yang satu ini sangat dirindukan kehadirannya. Yes… Bedug adalah solusi
perut yang merinding disko di bulan puasa. Benda yang berbahan dasar kulit
binatang yang disamak ini sebenarnya tak hanya berfungsi sebagai penanda adzan
semata, meski pada perkembangan kekinian, fungsi penanda tersebut menjadi
menonjol dan begitu melekat pada kegiatan peribadatan umat Islam.
Bedug
sendiri sebenarnya merupakan salah satu alat musik tradisional dari ribuan
tahun lalu dan digunakan sebagai alat komunikasi, baik untuk ritual keagamaan
ataupun untuk masalah politik. Bahkan
ia diduga kuat telah ada dari jaman pra sejarah. Kala itu, dikenal alat yang
dinamakan “nekara” dan “moko”, semacam genderang yang terbuat dari perunggu dan
berfungsi sebagai alat untuk melakukan ritual meminta hujan. Lebih jauh lagi,
pesona bedug pun termaktub pula dalam kisah susastra pada abad 14-16 Masehi.
Dalam karya Kidung Malat, bedug digambarkan sebagai alat komunikasi yang
bertujuan untuk mewartakan berita penting seperti bencana alam atau pun perang.
Bedug pada masa itu pun digunakan sebagai alat yang memberi penanda waktu.
Secara lebih terperinci, Cornelis De Houtman, seorang komandan ekspedisi
Belanda mengisahkan tentang bedug ini pada jurnal yang ditulisnya. Houtman
menuliskan bahwa di setiap perempatan jalan terdapat genderang yang
digantungkan serta digunakan untuk menyampaikan bahaya dan juga sebagai
penunjuk waktu.
Lalu, bagaimana bedug dapat menelusup masuk ke nusantara? Ia diduga kuat berasal dari Cina dan India. Konon, masuknya bedug ke
nusantara dibawa oleh Cheng Ho, seorang laksmana Cina. Ketika Cheng Ho hendak
pergi, seorang raja yang berasal dari Semarang mengatakan bahwa dirinya ingin
mendengarkan suara bedug dari masjid. Sejak itulah, alat musik yang umumnya
terbuat dari kulit kerbau ini kemudian menjadi bagian dari masjid, seperti
halnya di negara Cina, Korea, dan Jepang, yang memosisikan bedug di kuil-kuil
sebagai alat komunikasi ritual keagamaan. Pada perkembangannya, bedug kemudian memang menjadi bagian yang
terpisahkan dari penyebaran syiar Islam di tanah air.
Bagi masyarakat Jawa Barat sendiri, seni menabuh bedug, di samping
sebuah ciri unik penanda adzan di Indonesia, ia sebenarnya merupakan sebuah
tradisi permainan di waktu senggang yang kerap dilakukan saat menunggu buka
puasa. Pada masa lampau, biasanya permainan itu kerap dilakukan kaum remaja dan
dewasa. Mereka sering bermain bersama-sama menabuh lima bedug sekaligus untuk
memperdengarkan keindahan dan perpaduan bunyi alat tabuh itu. Sebuah kegiatan
yang sampai saat ini masih kerap dilakukan.


rampak bedug
BalasHapusbedug vector
bedug masjid
bedug lebaran
bedug terbesar di dunia
bedug purworejo