Beberapa waktu lalu,
ketika lebaran hendak menjelang, seorang kawan meminta saya untuk menemaninya
menjadi bagian dari budaya popular lokal khas negeri ini, berbelanja baju
lebaran! Jadilah kami yang selalu merasa muda ini iseng menelusuri pertokoan
dan distro yang berserak di tengah kota Bandung. Perburuan yang melelahkan plus
sulitnya menemukan baju idaman memaksa kami terdiam di emperan trotoar dan
mulai ngalor-ngidul bercakap-cakap untuk sekadar mengumpulkan energi. Saya yang
awam mengenai dunia perbajuan lalu mencoba menelisik dunia kain dan perbajuan
kepada sang kawan yang kebetulan lulusan desain tekstil tersebut. Mulai dari
batik sampai sablon ia jelaskan dengan panjang lebar dan cukup ilmiah sampai
percakapan itu berhenti di dunia tenun menenun. Sayang, ia tak terlalu banyak
mengerti tentang dunia yang satu ini meski sempat mendalaminya di bangku
kuliah. Apa itu sebenarnya menenun? Pertanyaan itu mengawang sampai kaki
menjejak ke rumah dan memaksa saya untuk kembali mencari tahu mengenai makhluk
tersebut.
![]() |
| taken from http://id.wikipedia.org |
Setelah oprak-oprek ke sana kemari, definisi
menenun itu sendiri saya temukan. Menenun adalah proses persilangan dua kain
dari helaian benang pakan dan benang lungsin yang sebelumnya diikat dan
dicelupkan kedalam zat pewarna alami. Menenun sendiri ditengarai telah ada dari
masa berabad-abad lampau, bahkan sejak jaman paleolitikum alias jaman batu.
Pada masa itu, karya-karya tenunan yang dibuat banyak terinspirasi dari bentuk jaring
laba-laba dan juga sarang burung. Pada perkembangannya, di masa masehi,
kebutuhan manusia akan sandang membuat tenun-menenun pun tersebar luas, mulai
dari dataran Eropa sampai menelusup ke wilayah Asia dan tentu saja masuk pula
ke pulau-pulau yang kini dikenal dengan nama Indonesia.
![]() |
| Mesin Tenun Power Loom |
Tentu saja kegiatan
menenun ini sangat mengandalkan tangan nan terampil dalam pengerjaannya,
sehingga pada masa-masa awal perkembangannya, ia hanya dapat diproduksi dalam
jumlah yang sangat terbatas. Perubahan besar kemudian terjadi pada abad ke-18. Lahirnya
berbagai penemuan baru mendorong terjadinya revolusi industri di berbagai
wilayah di Eropa yang dimulai dari London,Inggris. Pada tahun 1733 John Kay
menemukan mesin tenun bertenaga manusia yang dinamainya dengan flying shuttle. Permasalahan baru
kemudian muncul, kecepatan menenun dengan mesin tersebut tak berimbang dengan
kemampuan memintal benang sampai kemudian pada tahun 1764 menemukan mesin
pintal yang dinamai spinning jenny. Penemuan
ini kemudian disusul pula dengan ditemukannya mesin pintal bertenaga air pada
tahun 1769 oleh Richard Right. Kondisi kemudian berbalik, gulungan benang
menjadi banyak sehingga terjadi kekurangan tenaga penenun. Pada akhirnya, Edmun
Cartwright menemukan mesin tenun bertenaga uap yang dinamai power loom. Karyanya ini menyeimbangkan
antara jumlah penenun dan pemintal. Mesin tenun kemudian terus bergerak maju,
salah satu yang cukup spektakuler di masa modern adalah mesin tenun sistem otomatis
bernama Jidoka yang dibuat oleh Sachiki Toyoda dari Jepang.
Lalu bagaimana dengan
ranah tenun menenun di tanah air? Karya-karya tenun di Indonesia, utamanya
tenunan buatan tangan seperti kain ulos atau songket sangat terkenal hingga
saat ini. Bahkan, tenun ikat dari Sumba kini tengah diusulkan kepada Unesco
untuk menjadi warisan dunia. Di samping itu, karya tenun-menenun ini banyak
pula berkembang di daerah-daerah lainnya seperti Kalimantan dengan tenun sambas
dan tenun doyo serta di Sulawesi dengan tenun buton dan tenun donggala.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar