Keberadaannya pernah
begitu terpinggirkan. Di bagian belakangnya bahkan dahulu pernah menjelma
menjadi sebuah tempat lokalisasi yang dapat dibilang lebih populer dibandingkan
dirinya. Sempat tenggelam di antara bangunan-bangunan megah bertingkat yang
dijadikan pusat perdagangan paling ramai di Kota Bandung, Masjid Raya Bandung
yang lebih dikenal dengan nama Masjid Agung ini kini tampil sebagai sosok
meyakinkan. Dua menaranya yang dibalut marmer dari Yunani menjulang setinggi 81
meter. Dari atas menara tersebut, semua orang dapat dengan leluasa menyaksikan
kota Bandung yang kian penuh dengan bangunannya yang saling silang sengkarut.
Sebagai bangunan
bersejarah, Masjid Agung pada awal keberadaannya memiliki makna pragmatis, sintaksis, dan simbolik berdasarkan
fungsi, letak dan nilai yang diwakilinya. Makna simbolik masjid ini tidak bisa
dilepaskan dari posisinya sebagai masjid utama di Bandung dan karakter yang
menyertai atribut “Agung” yang tidak bisa secara sederhana diartikan sebagai kemegahan
tampilan semata melainkan juga dengan ikatan nilai tertentu dengan pengamatnya.
Sejak awal dibangun dilakukan, Masjid Agung telah mengalami lima kali
perombakan. Dalam rentang waktu tersebut lingkungan sekitar Masjid juga
mengalami perubahan karena perkembangan tata kota dan pertumbuhan masyarakat.
Renovasi tahun 2002 ini merupakan renovasi terbesar yang mengubah tampilan dan
luas Masjid Agung.
Masjid Agung Bandung
dibangun bersama pendopo kabupaten tidak lama setelah Gubernur Jenderal
Daendels memerintahkan pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke
lokasi sekarang. Krapyak terletak sekitar 11 kilometer sebelah selatan dari
pusat Kota Bandung. Waktu pembangunannya sendiri sebenarnya memiliki beberapa
versi. Namun beberapa sumber mengatakan bahwa masjid ini mulai dibangun pada
tahun 1810. Pada awal berdirinya, Masjid Agung hanyalah masjid tradisional
biasa berbentuk bangunan panggung yang terbuat dari bilik bambu dan atapnya
dari rumbia dengan kolam tempat mengambil wudhu yang cukup luas dihalaman
depannya.
Bila menilik dari sisi religiusitas,
sebenarnya Masjid Agung merupakan cerminan dari kultur religius masyarakat
Bandung pada masanya. Hal ini terlihat dari dijadikannya Masjid Agung sebagai
sumber pembangunan kota di wilayah alun-alun. Masjid Agung yang berada di
sebelah barat alun-alun merupakan satu kesatuan yang utuh dengan bangunan lain
di sekitarnya. Di sebelah selatan terletak pendopo dan di sebelah timur
terdapat bangunan Bale Bandung, yang kemudian berubah jadi bioskop dan akhirnya
menjadi pusat perbelanjaan. Agak ke utara dari simpang empat Jalan Alun-alun
Barat dengan Jalan Banceuy terdapat bangunan Penjara Banceuy, tempat Soekarno
pernah ditahan dan mempersiapkan pembelaannya bertajuk Indonesia Menggugat.
Namun, itu semua
dahulu. Kini masjid tertua di Bandung ini mungkin tak akan lagi menemui
masa-masa keemasannya. Kiri kanannya telah dijelmakan lahan-lahan komersil
sehingga tak menyisakan secuil pun kemegahannya. Belum lagi serakan pedagang
kaki lima yang begitu semrawut tak tertata yang selalu datang dan pergi setiap
saat semakin menggerus keagungannya. Jikalah harus berujar, kemegahan itu
mungkin hanya tersisa dari sembulan dua menaranya yang tampak begitu kokoh
memesona. Tanpa disadari, hari demi hari tampilan masjid semakin seperti
tenggelam dalam lautan hiruk pikuk segala macam aktifitas tersebut di atas.
Apalagi setelah dibangunnya pagar yang tinggi di sebelah timur bangunan masjid,
maka Masjid Agung seperti hendak menghindar dari tekanan-tekanan dari luar yang
boleh jadi memang mengganggu.
Tentu, meski kondisi
kemajuan jaman terus mendesak keberadaannya, setidaknya, Masjid Agung masih
berdiri di tempat yang sama dengan pada awal pendiriannya. Ia tetap menjadi
salah satu ikon religius yang dimiliki oleh Bandung. Hanya saja, satu hal yang
kurang mungkin adalah kurangnya daya integrasi keberadaannya dengan
hiruk-pikuknya aktifitas komersial. Tentu bukan berarti digabung, tetapi
diintegrasikan secara serasi, harmoni dan seirama. Apabila hal tersebut dapat tercapai,
maka dapat dipastikan ciri religius dalam ruang dan bentuk arsitektur serta
ruang kota di wilayah tersebut dapat semakin menonjolkan fungsinya sebagai
pusat ibadah dan juga sekaligus sebagai wahana sosial penduduk Kota Kembang.
Tapi satu hal yang pasti, kumandang adzan ketika sore merambat akan selalu
menjadi hal terindah yang dimiliki oleh Masjid Agung. Tak pernah luntur meski
tercabik masa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar