Minggu pagi adalah
sebuah hari yang selalu saya nanti-nantikan. Entah bagaimana menurut orang
lain, tapi bagi saya, ia adalah sebuah hari yang mampu memuaskan dahaga saya
akan petualangan dan melihat kegiatan manusia-manusia lainnya. Dan ini adalah
cerita tentang sebuah minggu ketika saya menelusuri sebuah keramaian Bandung di
minggu pagi. Balaikota yang terletak di daerah Wastu Kencana menjadi tujuan
saya hari itu.
Jam di tangan
menunjukkan pukul sembilan pagi ketika kaki saya melangkah ke kompleks
perkantoran yang sehari-harinya digunakan untuk kegiatan adminsitratif
pemerintah kota Bandung tersebut. Di akhir minggu, tempat tersebut pun kerap
mengubah dirinya menjadi sebuah ruang publik yang banyak digunakan oleh warga
Bandung untuk sekadar mencari udara segar. Atas dasar itu pulalah kemudian hari
ini saya mencoba untuk sedikit menilik sambil sekalian “cuci mata”. Balaikota
(Balkot) sudah sangat ramai pagi itu. Ujaran seorang teman yang mengatakan
bahwa tempat ini adalah salah satu tempat favoritnya di akhir minggu mau tak
mau harus saya akui kebenarannya.
Melihat Balkot di pagi
hari sebenarnya cukup membuat saya terperangah. Bandung mungkin tidak memiliki
kompleks olahraga yang lengkap seperti halnya Jakarta. Namun ternyata
keterbatasan tersebut tak menjadi halangan bagi warganya yang hendak
menyegarkan diri di pagi hari. Seolah tak peduli dengan lalu lalang kendaran
yang begitu penuh di setiap sisi kompleks Balaikota, mereka melakukan
aktifitasnya dengan begitu riang gembira.
Bagi saya sendiri,
Balkot adalah sebuah tempat bersejarah. Ketika masih menginjak bangku SMP, saya
acap mengunjunginya bersama teman-teman untuk sekadar bermain roller blade. Tempatnya yang cukup luas,
belum lagi ditambah dengan kenyamanan yang ditawarkannya membuat saya betah
berlama-lama meluncur. Usai mengeluarkan keringat bersama roller blade, saya dan teman-teman biasanya akan duduk-duduk di
bawah salah satu pohon-pohon besar yang banyak terdapat di Balkot sambil
melihat para skater berlatih beberapa trik skateboard.
Itu dahulu, kini para skater itu tak terlihat batang hidungnya. Sebagian besar
dari mereka memilih untuk berlatih di tempat lainnya.
Kembali pada kisah saya
di minggu pagi. Kenangan masa lalu membuat saya memilih salah satu pojokan
Balkot dengan ditemani sebotol teh kemasan. Mata saya berpendar ke seentaro
Balkot. Seorang lelaki yang mengaku pengunjung setia Balkot tiba-tiba mengambil
posisi duduk tepat di samping saya. Perkenalan pun dimulai, dan obrolan
terjalin. “Sudah dua tahun belakangan ini saya senang main ke Balkot setiap
minggu pagi,” ujarnya ringan memulai ceritanya.
Andi, demikian ia akrab
disapa, bertutur bahwa kecintaannya terhadap tempat ini sebenarnya lahir karena
keasrian dan juga keluasan yang dimilikinya. “Bandung adalah kota yang memiliki
tingkat pembangunan cukup cepat. Ruang terbuka untuk menghirup udara segar pun jadi
terus-terusan berkurang karenanya. Nah, bagi saya, Balkot adalah satu
alternatif yang pas untuk menumpahkan
kerinduan terhadap ruang terbuka yang masih memiliki udara segar,” ungkapnya
ringan.
Obrolan kami
berlangsung cukup singkat, tak sampai 10 menit, namun dari obrolan tersebut,
setidaknya saya menangkap sebuah pesan penting. Rindu akan udara bersih,
kegembiraan melihat sesamanya untuk terus berusaha bugar, dan menjalin
persahabatan dengan banyak orang adalah hal-hal yang mungkin menjadi alas an utama
para pengunjung Balkot.
Ah, saya jadi merasa
rugi jika terlalu lama duduk-duduk tanpa menjelajahinya. Usai menyeruput teh
botol, saya segera kembali mengelilinginya. Sebentar saya mengamati sekelompok
muda-mudi yang tengah asyik bermain voli. Senyum mereka kemudian mengembang,
anggukan kecil saya berikan. Tawaran bermain voli tak saya sia-siakan. Tawa
kami pun lalu berkejaran menyusuri pagi. Kini saya memiliki teman baru.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar