Awal juni lalu, udara
dingin Bandung Utara tepatnya di kawasan Teater Tertutup Taman Budaya Bandung
sedikit terpanaskan dengan penampilan delapan penari berbakat nan bertubuh
indah (oh, damn, kapan saya bisa
memiliki belukar tubuh seindah itu!) yang menampilkan pertunjukan tari karya
koreografer kelahiran Spanyol Blanca Li bertajuk “Elektro KIF”.
Dibuka dengan latar
bangku beserta meja layaknya sebuah ruang kelas, satu demi satu ke delapan penari
tersebut mengenalkan diri dengan caranya masing-masing di depan panggung. Ow, permulaan
yang seakan mengingatkan kita pada
film-film musikal ala SMA seperti di film Glee atau Step Up. Tentu saja,
bukan unsur cerita yang hendak diangkat oleh Blanca Li pada pertunjukannya kali
ini. Mengangkat latar belakang cerita keseharian pelajar yang diselipi oleh
bumbu humor di berbagai bagian pertunjukan, gerakan tarian yang bertumpu pada
kecepatan gerakan tangan yang diperagakannya menjadi satu hal yang sangat
menarik.
Tectonic atau electro
dance. Demikian jenis tari yang diperagakan itu dikenal. Kerap pula dinamai
dengan gaya tarian urban, tari ini memang lahir dari jalanan Perancis yang
memang tak pernah mati menawarkan kreativitas-kreativitas baru. Gerakan tangan
yang cepat dan begitu mendominasi menjadi ciri utamanya. Sekilas, tarian ini
seolah menggabungkan antara tarian hip-hop dan breakdance yang digabungkan
dengan music techno yang begitu kental. Dimulai pada awal tahun 2000-an,
perkembangan tari ini tak bisa lepas dari jaringan internet yang dengan cepat
menularkan virus melalui jejaring video Youtube dan Daily Motion. Beat-beat
cepat music techno yang menjadi pengiring tarian pun menjadi salah satu faktor
utama yang menyebabkan tarian ini menjadi sangat dimintati.
Namun, seperti yang
telah diutarakan sebelumnya, unsur cerita bukanlah hal utama yang hendak
diangkat oleh “Elektro KIF”. Hal itulah yang kemudian justru menjadi kelemahan
utama dari pertunjukan yang berlangsung selama satu jam tersebut. Alur cerita
yang hanya menggambarkan suasana sekolah mulai dari belajar, mengetik, ujian,
sampai bermain basket ini kerap terasa agak membosankan karena hanya
menampilkan tarian tectonic yang terlalu panjang di sela-sela cerita yang tak
memiliki kekuatan bertutur.
Meski demikian, tentu
sebagai satu jeni tarian kontemporer yang tengah digandrungi banyak kaum muda, “Elektro
KIF” memiliki pesona tersendiri yang setidaknya membuat penonton memilih untuk
tetap duduk di bangkunya masing-masing. Ya, bukankah sesuatu yang baru itu
kerap kali terasa begitu menyegarkan meski ia ditampilkan dengan cerita yang
biasa-biasa saja? Setidaknya, sebagai satu gerakan budaya, “Elektro KIF” malam
itu cukup berhasil menyebarkan virus-virus ke dalam kepala saya yang tak
memiliki bakat tari ini, virus yang mengatakan bahwa gerakan budaya tak perlu
lahir dari gedung-gedung tinggi. Dari jalanan paling kacau balau sekalipun,
kita bisa membuat satu gebrakan, satu pembaharuan yang menakjubkan untuk
dicermati dan dinikmati.
Foto : Agus Bebeng



Tidak ada komentar:
Posting Komentar