Udara dingin Bandung sedikit menghangat malam itu di CCF. Enam foto bergelantungan dan sebuah karya video dengan taburan furnitur memerangkap saya dan puluhan orang lainnya yang nyimpang barang sebentar pada sebuah pameran karya Ageng Purna Galih (Age) bertajuk icapture jilid dua alias icapture #home theatre edition. Ini kali Age masih berhasil membuat saya geleng-geleng kepala menikmati karyanya yang hanya secuil itu. Sentimentil, mengusik, sok serius, sok galau, dan yang paling mengganggu, ia tampil dalam kesederhanaan yang cukup menggelitik dan memaksa untuk direnungkan.
Rasa penasaran kemudian membuat saya mencari potongan-potongan kalimat yang mungkin berserak di sekitar pameran. Namun, demi membaca kuratorial pameran yang terpampang membisu di salah satu sudut tembok CCF kening saya mengerut. Bahasan yang melanglang buana menembus sudut-sudut pemahaman seni fotografi sampai fotografi seni bahkan sampai mengumbar pemahaman dari asal kata fotografi agaknya membuat icapture justru kian menjauh dari bumi penikmatnya.
Bagi saya yang awam ini, icapture adalah sebuah kegamangan antara penonton dan pelaku, antara mengamati dan diamati. Huruf “i” lalu menjelma menjadi “saya” yang jamak. Siapapun bisa menjadi “saya”. Ia yang menampilkan kesendirian pada setiap karyanya itu justru menabrakkan dirinya untuk tidak berdiri sendiri dengan mengajak semua yang hadir untuk menjadi potongan-potongan kesendirian tersebut. Pada fase yang lebih dalam, icapture seolah membuat kita menjadi bagian dari pameran tersebut. Unsur-unsur dialektis yang cukup kuat harus diakui menjadi salah satu titik kulminasi utama yang mengiringi karya-karya tersebut menjadi karya yang hidup, memiliki nafas.
Lebih jauh lagi, Edisi Home Theatre yang diungkit pada icapture kali ini kemudian memberi bumbu hangat, nyaman, sekaligus akrab dalam keseharian. Ia menjebak para penyaksinya dalam balutan fiksi khas dunia film yang melahirkan beragam imajinasi di kepala namun cukup menohok, bagaimana kita seringkali alpa menjabarkan keriuhan yang sebenarnya berdegup keras dalam melankolitas kesendirian. icapture bagi saya di malam yang kian sepi itu memberi potongan-potongan adegan keseharian yang kerap luput namun berulang terjadi. Ya, hidup adalah drama. Episode berulang yang di remix sampai kita lupa bahwa ia adalah pengulangan. Age, dengan karya-karyanya, setidaknya berhasil mengingatkan kembali akan kelupaan-kelupaan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar