2.12.11

Bandung dan Pemukiman Cantiknya

Bandung memiliki sejarah panjang semenjak masa pemerintahan Hindia Belanda sebelum ia menjadi kota tempat bermukim masyarakatnya seperti yang kita kenal sekarang. Dimulai dari dibangunnya Jalan Raya Pos yang diprakarsai oleh Gubernur Jendral Herman Willem Daendles (1808-1811). Atas dasar itu pula, sejak tanggal 25 Mei 1810, Bupati Wiranata Kusumah II kemudian memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung dari Karapyak ke Kota Bandung sekarang. Daerah yang dipilih sebagai ibu kota baru tersebut, terletak diantara dua buah sungai sungai, yaitu Cikapundung dan Cibadak daerah sekitar alun-alun Bandung sekarang yang dekat dengan Jalan Raya Pos.

Setahap demi setahap, pembangunan pun dimulai. Perpindahan rakyatnya pun dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan pengadaan perumahan serta fasilitas lain yang tersedia. Pada tahun 1852, daerah priangan terbuka untuk siapa saja yang ingin menetap disana. Dengan adanya pengumuman yang dibuat oleh Residen Priangan, Steinmetz, maka mulailah berdatangan para pemukim baru. Untuk mengatur pembangunan kota akibat bertambahnya jumlah penduduk, maka disusun suatu pedoman dasar bagi pembangunan Kota Bandung dengan “Rencana Kota Bandung” (Plan der Negorij Bandoeng).


Kisah Hunian Bandung
Meskipun saat ini sudah tidak begitu terlihat, perencanaan dan perkembangan Bandung tempo doeloe dibagi dalam dua bagian dengan jelas yakni Bandung Utara dan Selatan. Pembagian ini ditandai dengan jalur rel kereta api yang melintang ke arah Timur dan Barat. Bandung Selatan dulunya diperuntukkan bagi masyarakat pribumi dengan bagian khusus pusat pemerintahan, elit pribumi, alun-alun, dan masjid. Wilayah masyarakat pribumi ini cenderung berkarakter kurang teratur, sarana-prasarana kota yang minim, dan kualitas lingkungan yang rendah. Sementara di Bandung Utara dihuni oleh orang-orang Belanda dan sebagian kecil para elit pribumi. Pemukiman orang-orang Belanda ini jelas lebih teratur, nyaman, lahan yang luas, dan memiliki kualitas lingkungan yang jauh lebih baik. Memang, indahnya Bandung dan kesejukan udara yang dimilikinya membuat ia menjadi tempat bermukim yang banyak diinginkan oleh warga bangsa Eropa.

Kompleks pemukiman Eropa pertama yang dibangun di Bandung terletak di daerah Andir atau di sekitar lapangan terbang Andir. Karena letaknya yang berdekatan dengan lapangan terbang ini pulalah yang menjadikan pemukiman di seputar Andir ini dikenal dengan nama Fokkerhuis. Menyusul pembangunan pemukiman modern di daerah Andir, pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun pemukiman modern di daerah lainnya, seperti di sekitar Kosambi, khususnya di sekitar halte Cikudapateuh, dan di sekitar Jalan Riau. Berbeda dengan bangunan-bangunan perumahan yang dibangun di Andir dan Kosambi, bangunan-bangunan yang didirikan di sini jauh lebih mewah.

Bila pemukiman untuk orang Eropa dibangun dengan besar dan modern, tidak demikian halnya dengan bangunan-bangunan untuk Timur Asing dan terlebih lagi pribumi dari golongan rakyat kebanyakan. Waarga Timur Asing sendiri banyak yang menempati wilayah-wilayah perdagangan. Salah satunya adalah di sekitar wilayah Pasar Baru. Oleh karenanya, tidak mengherankan bila kemudian di kawasan terebut banyak dijumpai daerah-daerah Pecinan Bangunan-bangunan perumahan untuk orang-orang pribumi yang dibangun Belanda pada umumnya didirikan di atas petak-petak tanah yang relatif kecil serta terbuat dari bilik bambu. Satu di antara wilayah pemukiman yang dibangun Belanda untuk orang-orang pribumi dari kalangan rakyat kebanyakan terdapat di sekitar Karapitan. Sementara untuk orang-orang pribumi dari golongan menengah dibuatkan pemukiman di sekitar Cihapit. Di luar pemukiman yang dibuat Belanda, orang-orang pribumi pada umumnya membangun pemukimannya berdasarkan kelompok etnis atau daerah asal. Oleh karenanya tidak mengherankan bila di Kota Bandung dikenal wilayah-wilayah pemukiman pribumi, seperti, Kampung Jawa, Babakan Surabaya, Babakan Tarogong, Babakan Ciamis, dan Babakan Bogor.

Sisa-sisa dari sejarah pemukiman Bandung ini masihlah terasa. Tempat hunian tersebut, meski telah cukup banyak berubah seiring berputarnya roda waktu, tetap menyisakan cerita tentang awal mula Bandung didatangi oleh warganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails