12.11.11

Pertarungan di Tengah Tahun Baru Sunda

Sisi Sungai Cikapundung 1 Kartika 1948 Caka Sunda. 4 November 2011. Asap dupa menyergap, hujan rintik-rintik mengiringi di tengah pendar pelita yang mengerjap terlalu sendu. Sekumpulan lelaki dengan busana serba hitam dan iket kepala yang begitu khas asyik bercengkrama dalam obrolan dengan kopi dan berbatang-batang rokok kretek. 

Ini sudah barang tentu bukan praktik klenik berbumbu sepi dan temaram demi mendapat gadis pujaan hati. Adalah sekilas pintas kisah tentang pandangan mata saya yang terlalu liar ketika secara kebetulan terjebak dalam syukuran sederhana Tahun Baru Sunda di tepi Cikapundung tersebut. Bagi yang masih awam dengan penanggalan Sunda, sebenarnya, perhitungan kalender Sunda hampir mirip dengan kalender Masehi, yang membedakannya hanya penamaan hari, minggu, dan bulan. Penghitungan jumlah hari dalam satu bulannya pun ternyata mirip dengan perhitungan kalender Masehi, ada yang berjumlah 29 hari dan 30 hari. Adapun bulan dalam kalender Sunda yaitu, Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, dan Asuji. Sedangkan nama hari-hari dalam kalender sunda adalah Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jumat), Tumpek (Sabtu), dan Radite (Minggu).

Foto oleh Agus Bebeng
Jujur saja, selain bobodoran sang pengisi acara serta suguhan musik yang ditampilkan, saya tidaklah terlalu paham dengan prosesi yang dilakukan. Jadilah lalu saya seperti anak hilang berlari kesana kemari demi setangkup rasa penasaran. Ritual ngalarung yang menjadi pembuka syukuran menyuguhkan sedikit nuansa magis. Di atas tampah, berbagai sesaji diletakkan. Doa-doa dipanjatkan dalam kenikmatan nan sunyi. Sang tampah pun dihanyutkan, menghadapi takdirnya bersahabat dengan sungai Cikapundung. Konon, ngalarung dilakukan untuk menghilangkan kotoran dalam jiwa masyarakat Sunda beserta lingkungan tempat hidupnya. Lalu berturut-turut pentas seni Tarawangsa, Kelompok musik Karinding Attack, Papperback, dan Gembyung asal Subang dihadirkan.

Bagi saya yang hidup dalam cepatnya gerak kota dan geramnya pencarian keping-keping rupiah, syukuran Tahun Baru Sunda ini kemudian tidak hanya sekadar pengingat akan tradisi dan akar budaya semata. Gedung-gedung yang berada disekitaran tempat syukuran seolah menghantam-hantam kepala dengan begitu jumawa. Memberikan satu kontradiksi empiris, betapa kita kerap memuja akar budaya, namun bertenggang rasa terhadap gejala-gejala global yang mengikis sang budaya tersebut. Gedung-gedung tersebut tentulah tak bersalah, kesalahan terbesar mungkin terletak pada kerinduan pada sang budaya lokal yang tak diimbangi oleh rasa kepemilikan yang utuh. Kita kagum pada budaya Sunda, namun entah berapa tahun lalu mendengar tembang Cianjuran. Kita gandrung menjadi pewaris budaya Sunda, namun khilaf mengingat nama tari lain selain Jaipong. 

Foto oleh Agus Bebeng
Tentu saja, kelupaan dan kekhilafan itu tak bisa serta-merta dipersalahkan pula. Secara universal, kultur, dengan segala keunikan dan keterbatasan dalam keluasan yang dimilikinya merupakan sikap. Pola pikir, idealisme, sampai praktik keseharian menjadi penanda dari penyikapan terhadap kultur tersebut. Permasalahan pun terjadi ketika sikap akan “penyikapan” yang harus dilakukan itu seringkali terbelah, membentuk pola acak yang nyaris baru sehingga memutus tali persinggungan yang dimilikinya.  

Pada akhirnya Syukuran Tahun Baru Sunda memberikan pertarungan paling hakiki jika dikaitkan dengan konteks kekinian: Akankah ia menjadi seremonial belaka lalu secara ekslusif bersembunyi kembali menunggu tahun berikutnya di sudut-sudut yang nyaris tak terjamah meski bergema kencang atau gelombang tersebut justru menjadi awal mula dari gerakan kesundaan, baik secara historis maupun filosofis dan bukan sekadar gerakan budaya pop yang marak di suatu masa tetapi hilang tergusur oleh fenomena baru yang dianggap lebih kontemporer. Lalu, kita menjadi petarung di pihak mana? Silakan memilih kawan-kawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails