4.11.11

Membaca Dunia Menelusuri Ilmu

Kemacetan dan rintik hujan khas tengah bulan menemani perjalanan saya hari itu. Cepat saya bergegas melangkah sebelum hujan menerpa lebih. Ini adalah tempat yang sangat terkenal di kota Bandung. Palasari, terletak di jalan Palasari, di sekitar tembusan Lodaya, adalah surga bagi para pecinta buku. Beberapa waktu lalu tempat ini sempat mengalami musibah kebakaran, namun tetap saja hal tersebut tak mengurangi animo manusia yang mengunjunginya. Tentu, bukan tanpa sebab saya berada di Palasari. Ibu saya, perempuan paling bersahaja yang pernah saya kenal, pernah mengeluarkan uneg-unegnya. “ Buku-buku mahal,” keluhnya di suatu ketika entah hendak memprotes siapa. Perempuan yang gemar membaca sedari muda ini memang menjadi salah satu manusia paling ceriwis mengenai naiknya harga-harga buku akhir-akhir ini. Dan entah mengapa pula, kalimatnya yang sangat singkat itu membuat saya tiba-tiba sangat  ingin memberikannya buku!

Mata saya sedikit nanar mencoba beradaptasi dengan sekitar. Deretan kios-kios buku berjajar disesaki para pengunjung. Tukang-tukang parkir terlihat sibuk menata kendaraan sambil sesekali meniup peluit di mulutnya. Keramaian khas dengan sensasi yang cukup berbeda dibandingkan bila saya mengunjungi toko buku pada umumnya. Tak Ada kesan eksklusif sama sekali yang selama ini menempel dan menjadi citra dunia perbukuan di Indonesia. Semua berbaur menjadi satu. Langkah saya tak surut meski rintik gerimis terus menghujani seolah tak kenal kata berhenti. Berjalan menyusuri puluhan kios yang menjual beragam buku dari mulai pelajaran hingga sastra. Sapa-sapa hangat dari para penjual terdengar tak putus, menyejukkan sekaligus membingungkan. Dengan kebaikan penuh ketulusan mereka menawarkan bantuan untuk mencarikan buku yang saya inginkan meski hal itu terkadang malah membuat saya bingung untuk memilih kios yang hendak dimasuki.

“ Saya sudah berdagang di sini semenjak tahun 90-an. Saat ini, pengunjungnya masih banyak meski sudah agak berkurang,” pungkas seorang pedagang yang saya sambangi kiosnya sore itu. Memang, sampai saat ini, buku masih berada di luar daftar kebutuhan primer masyarakat Indonesia pada umumnya. Terlebih ketika harga BBM merambat naik pada beberapa tahun terakhis, tentulah posisi pembelian buku dalam daftar itu kembali tergeser. Tapi kebutuhan itu tak bisa ditutupi. Dunia pendidikan terus melaju. Para pelajar, mahasiswa, atau para pecinta buku pun pastinya tidak bisa serta merta menggeserkan kebutuhan itu. Pencarian buku murah seperti halnya berburu ke Palasari menjadi alternatif yang dicari. Bukan lagi rahasia, pasar buku seperti halnya Palasari sudah sejak lama sudah memenuhi kebutuhan itu untuk masyarakat.


“ Biasanya sih, Palasari ramai didatangi ketika tahun ajaran baru tiba. Orang tua akan berbondong-bondong mencari buku untuk anak-anaknya,” jelas pedagang di hadapan saya lebih lanjut.  Sebuah diskusi santai namun menarik kemudian terjalin. Betapa pasang surut dunia buku tak membuat semangat para pedagang untuk menjajakan buku murah menjadi luntur. Bahkan mereka, para pedagang buku Palasari, kerap memberi diskon kepada para pembeli.

Saya lalu teringat dengan sebuah berita yang dilansir pada salah satu stasiun televisi swasta yang mengatakan terancam tutupnya 3000 toko buku di Indonesia. Kegelisahan cukup besar lalu sempat menemui saya. Akan tetapi, Palasari ternyata berhasil memupuskan kekhawatiran saya. Ia seolah tak tergoyahkan meski bisa jadi bahaya besar tengah melanda dunia perbukuan. Kuncinya hanya satu: kebersahajaan. Tempat ini memang memiliki kebersahajaan yang sulit dicari tandingannya. Ia dapat dikatakan merupakan suatu bentuk gerilya para produsen buku yang berhasil mendatangkan konsumennya.

Buku yang saya cari telah berada digenggaman dan wajah ibunda tercinta sontak membayang. “ Nanti, Kang, tiga hari lagi ke sini lagi, ya, “ seorang penjual mengingatkan saya bahwa ia telah berjanji menyediakan buku yang saya inginkan namun tak terdapat di kiosnya. Saya mengangguk pelan, meresapi kemesraan sore itu. Hujan telah tuntas, namun hati saya membadai rindu pada Palasari ketika kata demi kata saya tumpahkan dalam catatan kecil ini.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails