Gegap-gempita Sea Games menyisakan sedikit sesak. Sepakbola yang “lagi-lagi” nyaris juara dan atlit silat Indonesia yang mendapatkan medali emas dengan cara memalukan menggunakan jurus “langkah seribu” memenuhi ruang-ruang percakapan publik. Palembang yang setengah hati menjadi tuan rumah dan terpaksa berbagi dengan Jakarta pun mempunyai kisah sendiri. Oh, ya. Tentu saja bukan kekacau-balauan penyelenggaraan Sea Games yang bahkan menjadi headline di sebuah media cetak di Filipina yang akan digosipkan di tulisan ini. Mengingat Palembang adalah mengingat songket. Saya yang menghabiskan masa kecil di bumi Srijaya itu kemudian mencoba berburu kembali ingatan-ingatan akan kain yang konon pada masa dahulu dijahit dengan menggunakan benang-benang yang terbuat dari emas tersebut.
Kata songket berasal dari istilah sungkit dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, yang berarti "mengait" atau "mencungkil". Hal ini berkaitan dengan metode pembuatannya yang mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan menyelipkan benang emas. Di Indonesia, pusat kerajinan tangan tenun songket dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Lombok dan Sumbawa. Di pulau Sumatera pusat kerajinan songket yang termahsyur dan unggul adalah di daerah Pandai Sikek, serta di Palembang. Selain di Indonesia, kain ini pun terdapat di Malaysia dan Brunei.
Terdapat banyak sejarah yang mengiringi perjalanannya. Tenun songket sendiri merupakan seni budaya yang berasal dari daratan negeri Cina, keberadaannya telah hadir sekitar 1000 tahun yang lalu. Perjalanan tenun songket kemudian bertualang ke Negeri Siam (Thailand) lalu menyebar ke beberapa negara bagian di Semenanjung Negeri Jiran Malaysia. Seperti ke Selangor, Kelantan, Trengganu, dan Brunei Darussalam sampai akhirnya menyeberang ke Silungkang, Siak, dan Palembang.
Adapun Menurut hikayat rakyat Palembang, asal mula kain songket adalah dari perdagangan jaman dahulu di antara Tiongkok dan India. Simbiosis mutualisme kemudian terjadi, Tiongkok menyediakan benang sutera, India menyumbang benang emas dan perak dan jadilah songket. Pola-pola rumit yang dihadirkannya dibuat dengan menggunakan sehelai jarum leper.
Catatan sejarah kemudian berputar dengan cukup memusingkan. Tak ada yang tahu pasti dari mana sebenarnya songket berasal, atau darah budaya awal apa yang dimilikinya. Hanya saja, kain songket kemudian menjadi terkenal di Palembang dikarenakan kualitas buatannya yang dianggap terbaik. Kejayaan Sriwijaya yang pada masa jayanya terkenal sebagai sentra songket terbesar turut pula mendongkrak popularitas Songket sebagai bagian dari masyarakat Palembang. Ya, Songket Palembang merupakan songket terbaik di Indonesia sehingga dijuluki "Ratu Segala Kain". Songket kelas atas memerlukan waktu satu sampai tiga bulan untuk Mulanya, kaum laki-laki menggunakan songket sebagai destar, tanjak, atau ikat kepala. Pada perkembangannya, barulah kaum perempuan Melayu mulai memakai songket sarung dengan baju kurung. Dalam khazanah struktur sosial, Songket dikenal sebagai kainnya kaum bangsawan. Pada masa Sriwijaya, gemerlap warna emas yang ditampilkan Songket menunjukan sebuah kebesaran dan kekayaan yang tidak terhingga.
Songket Palembang sendiri memiliki berbagai jenis, Songket Lepus, misalnya. Ia adalah songket yang nyaris seluruh bagiannya tertutup oleh benang emas. Kualitas songket Lepus adalah kualitas nomor satu dan sangat mahal harganya. Lalu ada songket Tawur. Sesuai namanya, songket ini memiliki motif yang menyebar di kain. Adapula songket Tretes Mender yang hanya memiliki motif pada ujung pangkal dan pinggir kain. Selain nama-nama populer tersebut, masih banyak jenis-jenis songket yang umumnya dibedakan berdasarkan motif yang dimilikinya.
Satu hal yang pasti, asal-muasal songket yang simpang siur ini kemudian mengingatkan saya akan pertikaian seni budaya yang kini marak dengan negara tetangga. Saya bukanlah sejarawan apalagi pengrajin songket dan semoga saja songket tidak pernah masuk ke dalam pertikaian tanpa akhir tersebut. Hanya saja, penulusuran kecil-kecilan mengenai songket ini setidaknya membuka mata barang sekejap betapa kericuhan dalam ranah kultural mau tidak mau harus disadari bukan sekadar kericuhan kekayaan kreativitas semata, namun kericuhan kultural adalah penanda dari pentingnya peradaban. Jagad asal-usul. Gelanggang yang selalu memanas di tengah krisis identitas yang kerap melanda diri manusia. Jadi? Mari mengingat songket, sebuah nukilan peradaban yang mungkin menandai eksistensi kita sebagai manusia.



Baru dua hari yang lalu saya kembali dari Palembang, beruntung sempat mengunjungi Galeri Songket Zaenal. Kagum luar biasa terhadap keelokan kreasi songket, namun gigit jari ga sanggup beli karena harganya super mahal T.T..Meskipun begitu, saya pribadi berpendapat songket dengan kualitas bagus memang pantas dihargai tinggi :)
BalasHapus