“Kring... kring… kring ada sepeda, sepedaku roda tiga,
kudapat dari ayah, karena rajin belajar…”
Penggalan lagu anak-anak di atas mungkin sudah sangat jarang terdengar, namun hari itu saya seakan mengalami dejavu. Adalah perjumpaan dengan komunitas Paguyuban Sapedah Baheula (PSB) penyebab dari semuanya.
“Awalnya PSB hanyalah sekumpulan pecinta onthel yang kerap ‘mangkal’ di Pusdai dan RRI Bandung. Saling bertukar informasi mengenai onthel pun kemudian bergulir pada tiap pertemuan mereka. Berawal dari pertemuan demi pertemuan itulah kemudian pada 31 Januari 2005 PSB terbentuk, waktu itu hanya beranggotakan 15 orang, namun kini anggotanya sudah mencapai 283 orang,” ujar Kang Aboy, salah seorang pengurus PSB, memulai ceritanya. Ia kemudian menuturkan bahwa Bandung sebenarnya bisa dibilang surga bagi para pecinta onthel. Tak seperti di daerah lain, mencari onthel di Bandung relatif lebih mudah dibandingkan di kota-kota lainnya. Kebanyakan onthel yang ada di kota ini masih orisinal dan terawat dengan baik. Onderdilnya pun masih dapat dicari dengan mudah di tempat-tempat loak seperti di Astana Anyar.
PSB sendiri ternyata memiliki jadwal rutin berkumpul setiap minggu pagi dan berkeliling kota bersama dengan menggunakan onthel. “Finishnya, sih biasanya di Alun-Alun, ada juga anggota PSB yang senang berkeliling di malam hari, kelompok ini start dari Gedung Merdeka dan finish di Alun-Alun,” Jelasnya. Lelaki yang juga pecinta motor tua ini pun menambahkan bahwa kegiatan PSB tak hanya sekadar berputar-putar kota, komunitas yang satu ini acapkali mengadakan kegiatan lainnya seperti mengadakan bakti sosial atau membersihkan taman kota.
Sore itu, di sela-sela persiapan touring PSB, Kang Aboy menuturkan pula bahwa kecintaannya terhadap onthel sebenarnya didasari oleh nilai klasik yang dimiliki olehnya. “Perjuangan memburunya yang begitu mengasyikkan juga menjadi alasan saya menyukai onthel,” ia kemudian menambahkan.
Agus Hadikarta, salah seorang anggota PSB lainnya, bahkan mengaku telah jatuh cinta dengan onthel semenjak belia, onthel yang pertama kali ia gunakan ketika masih kecil hingga kini pun masih terawat rapi. Lelaki yang akrab dengan sapaan Pak Haji ini menuturkan pula bahwa bersepeda adalah salah satu cara efektif untuk mengurangi kesumpekan kota yang kian hari kian menjadi-jadi. Ia lalu melanjutkan bahwa membiasakan diri bersepeda bukanlah hal yang mustahil terlaksana. Pak Haji kemudian mencontohkan ketika PSB melakukan tur ke daerah Ciburuy. “ Masyarakat yang melihat kami bersepeda spontan langsung mengeluarkan sepeda kepunyaan mereka dan mengikuti kami.”
Sependapat dengan hal tersebut, Kang Aboy pun mengatakan bahwa bersepeda sebenarnya adalah masalah kesadaran. “ PSB bahkan mengajak instansi-instansi pemerintahan untuk bersepeda, minimal satu kali dalam setiap minggunya,” tutur Kang Abuy. Ajakan ini pun sudah memerlihatkan hasilnya. Bupati Purwakarta dan jajarannya adalah salah satu contoh. Kini mereka telah membiasakan diri bersepeda ke kantor. Kampanye bersepeda ini hingga kini terus dilakukan oleh PSB. Hal tersebut biasanya dilakukan dalam tiap touring yang dilakukannya.
Suka duka tentu kerap juga menghampiri para pecinta onthel ini. Adakalanya ketika sedang bersepeda suara-suara klakson mobil nyaring berbunyi di belakang. “Kami seolah dianggap dari golongan rendahan, padahal onthel sendiri kini harganya sudah ada yang melebihi harga motor baru. Tapi sebenarnya bukan karena masalah harga saja, PSB tidak hanya bernostalgia dengan onthel, namun lebih dari itu. Kami beronthel karena kami menghargai warisan dari masa lalu dan juga memahami betul budaya positif dari bersepeda. Tak hanya onthel sebenarnya, sepeda apapun tak kami pandang sebelah mata, toh tujuan dari PSB sendiri memang ingin mengenalkan budaya bersepeda kepada masyarakat tanpa melihat sepeda apa yang digunakannya,” tutur Kang Aboy dengan panjang lebar.
Tak terasa sudah lebih dari satu jam kami bercakap-cakap. Touring mereka hari itu sudah hendak dimulai, Kang Aboy, Pak Haji, dan teman-teman PSB lainnya lalu meminta permisi. Iring-iringan onthel itu kini mulai merayapi padatnya jalanan kota menuju Garut, tujuan touring mereka hari itu. “ Jika ingin ikut bersepeda datang saja ke base camp kami,” ucap mereka sesaat sebelum menggenjot sepeda-sepeda antik tersebut, mengajak menikmati semilir angin, meresapi kultur berkendara masa lampau.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar