16.9.11

Kota Tua Bandung

Sejarah mencatat, pada masa pemerintahan kolonial, Bandung adalah sebuah kota wisata yang sangat terkemuka di dunia. Wisatawan-wisatawan dari Eropa silih berganti berdatangan untuk menikmati keasrian dan keramahan yang dimilikinya. Peorganisasian potensi wisata pun dilakukan dengan berdirinya Bandoeng Voorruit, sebuah perkumpulan yang senantiasa bekerja sama dengan pemerintah kala itu untuk mengembangkan potensi wisata yang dimiliki Bandung. Dikisahkan, organisasi itu benar-benar berusaha memajukan sektor pariwisata pada masa lalu. Dalam menggali obyek turisme, ia berhasil membangun jalan raya menuju Kawah Tangkuban Perahu dan Kawah Papandayan. Selain itu, Bandoeng Voorruit  juga menyediakan fasilitas dan kemudahan bagi para turis yang ingin mengunjungi objek wisata di sekitar Bandung dan Priangan, seperti danau-danau, air terjun, panorama indah, peninggalan sejarah, tempat peristirahatan, dan lain-lain. 


Mungkin dibutuhkan perjuangan super keras untuk kembali meraih apa yang pernah dicapai kota ini, tapi setidaknya, sisa-sisa kejayaan puluhan tahun silam itu masih menyisakan bentuknya. Untuk yang satu ini, mungkin Bandung masih kalah dengan kota seperti Jakarta, misalnya, yang memang menjadikan salah satu sudut kotanya menjadi tempat wisata “kota tua”. Namun, tentu, meski dalam kondisi yang berbeda, menelusuri kota tua Bandung adalah satu hal yang senantiasa memberi sensasi tersendiri bagi para pelancong.

Braga dan Sajabana
Nama Jalan Braga di Kota Bandung, sejak dulu hingga kini, ketenarannya tidak pernah pudar. Jalan yang dibangun dan sudah ada sebelum tahun 1810 itu, sebelumnya bernama jalan Bragaweg saat pemerintahan kolonial Belanda. Ia dahulu adalah tempat plesir terkemuka. Sejumlah kafe dan rumah hiburan pun banyak berdiri untuk memenuhi kebutuhan hiburan para pelancong. Tak jauh dari sana, tempat yang kini dijadikan tempat berjualan lukisan, dahulu bernama jalan Pedati karena sering hanya dilewati Pedati. Pembangunan di Braga berubah setelah tahun 1920-an, sejalan pembangunan Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan sipil.

Uniknya Asia Afrika
Dahulu, jalan ini memiliki nama Groote Postweg. Letaknya yang tak jauh dari pusat hiburan (Braga) dan pusat perdagangan (Alun-alun), membuat jalan ini adalah salah satu jalan tersibuk pada masanya. Di tempat ini pula terletak tempat transit kereta kuda yang melintas untuk mengganti dengan kuda yang lebih segar. Kereta-kereta itu sendiri umumnya adalah milik para pembesar Belanda dan pejabat pribumi yang telah berkeliling melintas Gedung Sate atau jalan Merdeka. Kini, tempat transit tersebut telah berganti wajah dan menjadi satu dengan salah satu kompleks sebuah Bank.

Pecinan at Bandung
Pecinan di Kota Bandung tersebar di Jalan Banceuy, ABC, Pecinan Lama, Otto Iskandardinata, Kebonjati, Pasirkaliki, Gardujati, Cibadak, dan Kelenteng. Munculnya kawasan itu berawal dari kebijakan Pemerintah Hindia Belanda yang mendatangkan orang-orang Tionghoa demi memajukan perekonomian Kota Bandung pada pertengahan abad ke-19. Salah satu lahan khusus bagi orang Tionghoa berada di Jalan Otto Iskandardinata (Pasar Baroe Weg). Jantung pecinan terletak di kawasan Jalan Pecinan Lama. Mereka kebanyakan bekerja sebagai perajin mebel atau membuka toko kelontong, warung makan. Lahan khusus juga disediakan di tepian Sungai Citepus di kawasan Kebonjati. Pusatnya di Jalan Kelenteng, yang merupakan lokasi rumah tinggal Kapiten China Tan Yun Liong, yang kemudian dijadikan kelenteng pada 1885.


Kesejukan Setiabudi
Setiabudi mungkin tak terlalu banyak meninggalkan jejak kota tua. Kepadatan penduduk dan dinamika pembangunan menyebabkan Setiabudi cepat bersolek. Dahulu, wilayah ini merupakan idaman bagi kaum pensiunan untuk menghabiskan masa tuanya. Rumah-rumah pembesar dengan ornamen unik khas awal abad 20-an menjadi ciri terpenting yang dimiliki oleh Setiabudi. Para pekerja perkebunan yang berpusat di daerah Lembang pun umumnya memiliki tempat peristirahatan di Setiabudi.

2 komentar:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai kota tua bandung.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai tempat wisata di indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini

    BalasHapus
  2. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai kota tua bandung.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai tempat wisata di indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails