![]() |
| karya-karya kolaborasi wawbaw bersama teman-temannya |
Beberapa hari yang lalu, Wawbaw Day tuntas sudah digelar di Tobucil. Sayang, dari kebersamaan dua hari yang ditawarkannya, saya hanya sanggup menyempatkan diri pada hari pertama, sebuah sore yang diawali dengan rintik hujan dan kehangatan. Tumpukan benda-benda putih dengan ornamen pink itu teronggok begitu saja, dan Age, sang empunya Wawbaw dengan begitu bersemangat, menyusun satu demi satu karya-karyanya. Tentu saja, saya sedang tidak ingin bercerita mengenai acara angkut-angkut tersebut. Bagi saya, mengamati Wawbaw adalah mengamati sebuah perjalanan tiada akhir dari sebuah kata : konsistensi.
![]() |
| avatar wawbaw edisi awal |
![]() |
| aneka tas wawbaw |
Meledaknya jejaring sosial di dunia maya mungkin menjadi satu hal yang juga membantu Wawbaw memerkenalkan dirinya pada dunia yang lebih luas. Kala itu, Age sempat menolak kehadiran jejaring sosial. Ketika semua orang berbondong-bondong bersahabat dengan Facebook, ia nyaris satu-satunya teman saya yang tidak memiliki akun di situs buatan Mark Elliot Zuckerberg tersebut.
Episode jejaring sosial kemudian menyebarkan virus-virus Twitter ke seentaro bumi. Tiba-tiba saja, gambar-gambar figur Wawbaw hadir di banyak foto profil pemilik akun kicauan tersebut. Pun, berkebalikan dengan keberadaan Facebook, sang empunya Wawbaw kini tiba-tiba pula menjadi demikian bersahabat dengan jejaring sosial bernama Twitter tersebut. Dalam waktu sekejapan mata, demam terhadap Avatar Wawbaw menjamur dengan gila-gilaan meski tak sampai mengalahkan demam Sma*sh. Semenjak itu, Wawbaw hadir di berbagai bentuk. Dari tas sampai sepatu. Dari Mocca sampai Bottle Smoker.
![]() |
| avatar book kolaborasi wawbaw dan vitarlenology |
Kembali pada Wawbaw Day. Di tengah ririungan para sahabat yang tak terlalu banyak dan menyempatkan hadir di tengahnya, apa yang digelar di tengah-tengah Tobucil tersebut kemudian bukan sekadar mengembalikan ingatan saya pada kisah di masa lampau, namun ia dengan semena-mena mengingatkan arti paling mendalam dari konsistensi yang dibalur dengan gaya militansi namun hedonis. Adapun penggambaran Avatar yang dilakukan oleh Wawbaw itu sendiri, meski sebagian Avatar merupakan wajah-wajah fiksi, merupakan salah satu ide paling brilian sekaligus gila-gilaan. Melalui Avatar yang dihadirkannya ia seolah terus “mengganggu” para penggemarnya, menyelipkan pengertian dari narsisme secara gamblang sekaligus sederhana. Melalui penggambaran Avatar yang disematkannya dalam beragam bentuk produk itu pula, Wawbaw pada akhirnya seakan berkata elegan, cintai Wawbaw seperti engkau mencintai dirimu!
Saya tak tahu, apakah di esok hari Wawbaw Day akan terulang lagi atau justru ini adalah pertama dan terakhir. Meski demikian, demi mengingat konsistensi yang dimilikinya tak perlulah berandai-andai mengenai hal itu. Saya tahu, selain Tuhan, tak ada yang mampu menggugat konsistensi yang dimiliki Wawbaw!





Tidak ada komentar:
Posting Komentar