Pagi masih menyisakan seperangkat embun bening yang menyejukkan ketika saya menginjakkan kaki di tempat ini. Yeah, karena saya tak punya tujuan mudik namun ingin mudik, nekadlah saya menelusuri jalanan tepian luar kota Bandung. Kini, sampailah saya di tempat yang sebenarnya tidak pernah terlintas di benak untuk dikunjungi. Gerbang yang tidak terlalu besar seolah menyambut kehadiran saya. Sebuah candi bernama Cangkuang terletak pada sebuah "pulau" kecil yang berbentuk memanjang, membujur arah barat-timur dengan ukuran 16,5 hektar kini terpampang di hadapan. Pulau kecil ini berada di tengah sebuah danau yang dikenal dengan nama Situ Cangkuang. Di danau ini selain terdapat pulau panjang, terdapat juga dua pulau lain yang letaknya di sebelah selatan dan tenggara pulau yang panjang. Kedua pulau ini berukuran lebih kecil dan berbentuk agak bulat. Di sekeliling pulau kecil ini merupakan daratan rawa yang berair.
Ya, Daerah Cangkuang merupakan suatu obyek wisata yang berupa danau, Kampung Pulo dengan rumah adatnya, dan sebuah bangunan candi pada sebuah "pulau" di tengah danau. Pulau tersebut sebetulnya mirip sebuah semenanjung yang menjorok ke arah timur ke tengah danau. Untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat. Dari jalan raya Nagrek-Garut, pada jarak sekitar 9 km dari simpangan Nagrek-Tasik-Garut yang menuju ke arah kota Garut, setibanya di Leles sebelum alun-alun kemudian membelok ke kiri ke arah Desa Cangkuang dan Kampung Ciakar. Dari pertigaan ini perjalanan dapat dilanjutkan dengan kendaraan roda empat, ojek, delman, maupun berjalan kaki sejauh tiga km.
Meski tempat ini sangat menakjubkan, namun semata karena Candi Cangkuanglah saya sangat tertarik untuk berkunjung pada hari itu. Candi yang tengah saya saksikan ini merupakan hasil pemugaran yang dilakukan pada tahun 1978. Hasil penelitian kecil-kecilan yang saya lakukan hari itu pada beberapa petugas kemudian berhasil memecahkan rasa penasaran saya. Para petugas tersebut kemudian menerangkan bahwa Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Candrasasmita berdasarkan laporan Vorderman (terbit tahun 1893) mengenai adanya sebuah arca yang rusak serta makam leluhur Arif Muhammad di Leles. Selain menemukan reruntuhan candi, terdapat pula serpihan pisau serta batu-batu besar yang diperkirakan merupakan peninggalan jaman megalitikum. Penelitian selanjutnya berhasil menggali bangunan makam. “Candi Cangkuang sebagaimana terlihat sekarang ini, sesungguhnya adalah hasil rekayasa rekonstruksi, sebab bangunan aslinya hanyalah 35%-an. Oleh sebab itu, bentuk bangunan Candi Cangkuang yang sebenarnya belumlah diketahui,” tambah mereka menjelaskan beberapa saat kemudian.
Adapun makam Arif Muhammad itu sendiri memiliki kisah yang cukup menarik. Ia berasal dari kerajaan Mataram di Jawa Timur. Kedatangannya ke daerah Cangkuang adalah sebagai rangka persiapan untuk menyerang tentara VOC yang berkedudukan di Batavia. Arif Muhammad dan kawan-kawan beserta masyarakat setempatlah yang membendung daerah ini pada sekitar abad ke-17 sehingga terjadi sebuah danau dengan nama "Situ Cangkuang”.
Menurut catatan sejarah, candi Cangkuang dapat dibandingkan dengan kelompok candi di Gedongsongo (Candi II) dan Dieng (Candi Puntadewa). Bentuk profil bagian kaki, badan, dan atap mempunyai kesamaan. Demikian juga pintu masuknya mempunyai penampil. Atapnya terdiri dari tiga tingkat dan masing-masing tingkat terdapat hiasan mercu dan hiasan antefix. Kalau pada bangunan candi di Jawa Tengah mempunyai hiasan antefix yang diukir dengan hiasan sulur daun, maka pada Candi Cangkuang hiasan antefix-nya polos. Hiasan lain yang pada pintu masuk candi di Jawa Tengah adalah hiasan kala dan makara, maka pada Candi Cangkuang hiasan ini tidak ada. Berdasarkan perbandingan ini, dapat diduga bahwa bahwa Candi Cangkuang dibangun pada sekitar abad ke-8-9 Masehi.
Hilir mudik pengunjung yang keluar masuk candi berukuran tak lebih dari tiga meter persegi ini membuat saya penasaran untuk melangkah ke dalamnya. Sebuah arca yang diyakini merupakan arca dewa Siwa terduduk sendiri di sana. Kaki kirinya ditekuk mendatar dengan telapak kakinya diarahkan ke paha kanan bagian dalam. Di bagian depan kaki kiri terdapat kepala seekor sapi (nandi) dengan dua telinganya mengarah ke depan.
Mungkin Cangkuang tidak segemerlap Borobudur atau Prambanan. Namun, kemegahannya begitu terasa. Aura religius yang menaunginya membuat saya kian kagum pada sejarah bangsa ini. Jadi, jika Anda melintas ke daerah Priangan Timur, cobalah untuk mampir sebentar ke Candi Cangkuang. Menjejak sesaat pada masa lalu yang pernah terukir di sana.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar