Setiap Ramadhan tiba, keramaian sore tak hanya berkisar pada aktivitas ngabuburit yang kerap terlihat. Para pedagang yang sengaja menjual penganan untuk berbuka puasa pun seringkali terlihat bermunculan di sudut-sudut kota. Sebagian besar adalah pedagang yang berjualan makanan dan minuman menjelang waktu buka puasa. Mereka memanfaatkan kebiasaan warga Bandung yang senang berjalan-jalan sambil menanti waktu buka puasa atau ngabuburit untuk menjajakan beragam hidangan khas berbuka puasa. Daerah di sekitar Gedung Sate dan kompleks Pusdai adalah beberapa tempat favorit yang dipenuhi para pedagang.
Menarik jika memerhatikan para pedagang tersebut. Keunikannya terletak pada predikat yang disandang oleh pedagang-pedagang itu. “Pedagang dadakan”, demikianlah mereka acapkali diberi julukan. Salah satunya adalah perempuan muda bernama Laila Choidori. Sehari-hari ia sebenarnya memiliki kesibukan sebagai seorang tenaga pengajar sebuah bimbingan belajar yang cukup terkenal di kota Bandung. Hanya saja, setiap puasa tiba, ia menyalurkan hobinya membuat bubur sumsum yang menurut pengakuannya merupakan resep rahasia keluarga. Pilihan berdagang bubur sumsum sendiri diambilnya setelah menyaksikan bahwa pedagang serupa masih cukup jarang dijumpai pada tiap waktu berbuka puasa akan tiba. “Ya, lumayanlah, berbagi berkah di bulan suci,” ucapnya ringan, “ senang rasanya menyediakan santapan berbuka bagi mereka yang tengah beribadah, di samping itu, tentu saja penghasilan tambahan merupakan berkah tersendiri bagi saya,” lanjutnya kemudian.
Saban sore, selama Ramadhan, Laila selalu rajin berjualan di salah satu sudut Pusdai. Berbekal mobil pick-up milik kakaknya, ia pun beraksi menjajakan dagangannya. Perempuan single ini lalu berujar pula bahwa dalam satu hari ia mendapat pendapatan bersih sampai 100 ribu rupiah.
Jika Laila hanya menjajakan bubur sumsum, lain halnya dengan Maman Rukmana. Ia bersama istrinya menjual makanan berbuka puasa dengan lebih beragam, mulai dari es cendol, kolak, kue lapis, sampai buah kurma yang konon ia dapatkan dari distributor langsung yang berasal dari Jazirah Arab. Pensiunan pegawai negeri ini mengakui pula bahwa berkah memang menghampirinya selama bulan puasa. Dalam sehari, ia dan istri dapat mengantungi rezeki sebesar 200 ribu rupiah.
Penataan mungkin adalah hal berikutnya yang sudah semestinya mendapat perhatian serius. Banyak para pedagang dadakan ini yang lalu mengeluh perihal sulitnya mencari pinjaman modal untuk menjalankan usaha musiman tersebut. “Namun, show must go on,” tegas Maman menanggapi permasalahan modal tersebut. Baginya, ada atau tiada bantuan kredit tidak memengaruhi usahanya, “Memang sih, jika saja ada bantuan keuangan, mungkin usaha saya ini dapat jauh lebih baik, misalnya saja dengan lebih variatifnya makanan yang dijajakan, tapi toh semua ini sebenarnya hanya semacam pengisi luang selama bulan puasa, tak masalah modalnya sedikit atau besar, yang pasti saya hanya senang menjumpai keramaian menjelang berbuka, sambil menyelam minum air,” terangnya.
Menurut lelaki yang telah selama empat Ramadhan terakhir selalu menjadi pedagang dadakan ini, sebenarnya penataan sendiri lebih bermanfaat untuk meningkatkan citra pemerintah kota Bandung. “ Sebenarnya, jika saja pihak-pihak terkait mau membantu lebih, maka Bandung akan semakin dikenal sebagai tempat untuk berwisata kuliner. Unik bukan jika sebuah kota dikenal dengan penganan-penganan khas Ramadhan? Ya mungkin tidak bisa sekaligus, ia harus bertahap. Pelan tapi pasti, membuat Bandung benar-benar menjadi surga kuliner di segala musim. Memberi berkah bagi siapa saja, bagi pedagang, pembeli, dan juga pemerintah kota,” ujarnya mencoba memberi saran di akhir percakapan kami sambil melayani beberapa pembeli yang memesan es cendol dagangannya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar