Menggalau sepertinya menjadi embrio dari kegatalan untuk bergerak dan berburu kesenangan nan memabukkan. Selasar Sunaryo di utara Bandung kemudian diterjang membadai. Dodong Kodir sang pembuat alat musik dari berbagai limbah alias barang bekas dalam gelaran Selasar Kids Program 2011 menjadi tujuan saya dan Palupi Sri Kinkin sang perajut absurd pecinta samudera yang berkedok guru Sekolah Dasar. Wajah Kang Dodong, demikian ia akrab disapa, bukanlah makhluk asing bagi saya meski mungkin kami tak terlalu saling mengenal. Dari tangannya, berbagai alat musik aneh bin ajaib menjelma dan malam tersebut, (lagi-lagi) saya berkesempatan untuk mengintip kreasi lelaki kelahiran Tasikmalaya tersebut.
Lagu demi lagu dihadirkannya bersama-sama dengan kelompok musik Lungsuran Daun sembari terlebih dahulu alat-alat musik yang digunakan diperkenalkan kepada para penonton. Ada Alpedo yang menyerupai gitar, ada kecapi berbahan dasar bekas mesin cuci, ada Tornadong yang menghasilkan suara unik layaknya tornado, ada Chicken Drum yang merupakan sejenis kendang berbahan alat minum ayam, ada perkusi berbahan dasar cakram motor, dan alat-alat lainnya yang begitu numpuk bejibun.
Makoto Nomura dan ganknya, komposer asal negeri Sakura turut pula urun pentas memainkan jalinan tiupan pianika yang meski tak berasal dari barang bekas namun cukup memberi semburat yang membekas di telinga saya. Nada-nadanya mengingatkan saya pada alunan tradisional yang dipadupadankan dengan bebunyian khas kengacoan band lawas antah berantah Pemuda Elektrik digabungkan dengan musik gaya bebas ala Sungsang Lebam Telak namun dengan tingkat harmonisasi setingkat lebih ringan dengan konsep yang jauh lebih segar. Kolaborasi paling memabukkan antara Kang Dodong dan Makoto Nomura pun nampak pamungkas malam itu. Puluhan bocah peserta workshop tak kalah lincah meramaikan suasana dengan alat-alat ciptaannya.
Kembali pada Kang Dodong. Kekaguman saya, Palupi, dan orang-orang lainnya mungkin bukan hanya terletak pada bebunyian yang dihasilkan oleh alat musik yang digunakannya malam itu atau pada karya-karyanya yang dengan semena-mena telah nangkring dengan bebas jelita di beberapa museum di luar negeri. Adakalanya, berbagai perkakas bekas kerap tak terperhatikan. Bahkan ia kerap pula terselip di sudut-sudut kamar karena gegap gempita perkotaan mungkin saja membuat kita lupa untuk sekadar meletakkannya di tempat peristirahatan terakhir berjuluk tempat sampah. Beberapa dari kami bisa jadi kemudian terkagum-kagum dengan “keisengannya” mengumpulkan barang-barang bekas dan menciptakan sesuatu yang sama sekali baru dari barang-barang bekas tersebut, sesuatu yang mungkin nyaris tak pernah terpikirkan oleh saya dan juga banyak orang lainnya.
Melankolitas lalu terselip begitu saja di hati. Entah mengapa, di kepala saya limbah-limbah tersebut menjelma menjadi makhluk bernyawa super depresi karena fungsinya yang telah nyaris purna. Bak Semar yang turun dari langit, Kang Dodong kemudian hadir mengulurkan tangan mengajak para limbah tersebut untuk terus menggelinding dan meneriakkan suaranya. Kamera digital pocket saya yang tak mampu dengan baik mengambil gambar pertunjukan tersebut menyajikan nuansa siluet mengabur dan membuat potongan-potongan cerita yang kian menguatkan tampilan sang melankolitas. Mendengar Kang Dodong saya kemudian mendadak kangen dengan kamar saya yang seperti kapal pecah dan berbagai “limbah” yang terdapat di dalamnya! Yes, saya ingin pulang dan membuat sesuatu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar