Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.
Membangun Komunitas Kreatif di Daerah Terpencil Australia
Perkenalkan dua teman baru saya, jauh-jauh datang dari negeri kangguru untuk mempelajari kebudayaan Jawa di Jogjakarta. Saya berkenalan dengan mereka dalam sebuah workshop yang mereka adakan di Lir Shop. Mereka mengadakan workshop menggambar mata dengan metode yang sangat menarik. Namun sebelum saya menceritakaan tentang workshopnya, marilah kita berkenalan dulu dengan dua orang luar biasa ini, penggagas Wilurarra Creative, Ben Fox dan Kate Fielding.
Ben Fox dan Kate Fielding adalah dua orang asal Australia yang mendedikasikan talenta mereka pada pengembangan komunitas. Community development mereka lakukan melalui berbagai kegiatan kreatif dibawah bendera Willurarra Creative. Ini adalah sebuah art studio yang dalam official website mereka dijelaskan sebagai Part arts space, part library, part internet café, part hair salon, part music studio: All creativity, all community. Kegiatan yang mereka lakukan di sini salah satunya adalah memberikan workshop kreativitas kepada penduduk lokal, seperti workshop menulis, membuat musik, hair-styling, memahat, dan banyak lagi.
Perkenalkan dua teman baru saya, jauh-jauh datang dari negeri kangguru untuk mempelajari kebudayaan Jawa di Jogjakarta. Saya berkenalan dengan mereka dalam sebuah workshop yang mereka adakan di Lir Shop. Mereka mengadakan workshop menggambar mata dengan metode yang sangat menarik. Namun sebelum saya menceritakaan tentang workshopnya, marilah kita berkenalan dulu dengan dua orang luar biasa ini, penggagas Wilurarra Creative, Ben Fox dan Kate Fielding.
Ben Fox dan Kate Fielding adalah dua orang asal Australia yang mendedikasikan talenta mereka pada pengembangan komunitas. Community development mereka lakukan melalui berbagai kegiatan kreatif dibawah bendera Willurarra Creative. Ini adalah sebuah art studio yang dalam official website mereka dijelaskan sebagai Part arts space, part library, part internet café, part hair salon, part music studio: All creativity, all community. Kegiatan yang mereka lakukan di sini salah satunya adalah memberikan workshop kreativitas kepada penduduk lokal, seperti workshop menulis, membuat musik, hair-styling, memahat, dan banyak lagi.
Wilurarra sendiri merupakan bahasa setempat yang artinya western atau from west. Wilurarra berlokasi di Warburton, sebuah daerah yang cukup terpencil di Ngaanyatjarra Lands region, Australia. Sengaja dipilih lokasi ini karena pada dasarnya Ben dan Kate adalah petualang sejati. Kate bercerita pada saya, bahwa Warburton adalah daerah yang sangat indah, sebagian besar daerahnya merupakan padang luas dengan pemandangan yang luar biasa. Ditambah dengan penduduk lokalnya yang memang adalah suku asli Australia yaitu Aborigin, menjadi tantangan bagi mereka untuk bisa menggali potensi kreatifitas penduduk lokalnya. Hingga sekarang Wilurarra Creative sudah berdiri selama 8 tahun lamanya, waktu yang menurut saya cukup matang hingga akhirnya Ben dan Kate tidak lagi khwatir untuk meninggalkan studio mereka beberapa saat untuk datang ke Jogja.
Mengenai kunjungan mereka ke Jogja, Kate mengaku bahwa mereka dibuat jatuh cinta oleh kota ini. Agenda mereka di sini adalah mempelajari budaya Indonesia khususnya budaya Jawa. Beberapa agenda dadakan juga akhirnya terlakoni, seperti workshop kemarin salah satunya.
Ben dan Kate mengadakan workshop menggambar mata di Lir Shop. Menurut saya, mereka memiliki metode workshop yang sangat menarik. Sebelum workshop dimulai, peserta melakukan senam sederhana, semacam gerakan-gerakan joget untuk peregangan. menarik bukan, belum mulai saja sudah menyenangkan begini hehe. Dalam workshop ini, kami tidak hanya semata-mata menggambar mata. Namun Ben dan kate juga menunjukkan kepada kami berbagai bentuk mata. Mulai dari mata manusia lengkap dengan strukturnya, hingga bentuk-bentuk unik mata hewan. Mereka juga menunjukkan cara yang dapat membantu kita untuk menggambar mata dengan baik. Ben mengatakan bahwa permukaan mata itu hampir seperti tetesan air yang dapat memantulkan cahaya. Ben meneteskan air ke bagian bawah gelas plastik, lalu meminta kami untuk memperhatikan dengan seksama dan mencoba menggambarkan tetesan air tersebut lengkap dengan pantulan-pantulan cahayanya. lebih lanjut baca di sini


Tidak ada komentar:
Posting Komentar