29.7.11

Mengkritik Kebodohan Membongkar Keburukan

Puluhan lukisan itu terhampar dengan begitu saja dan semena-mena di galeri Soemardja ITB. Jujur, saya sedikit bingung harus mengamati dan memulai darimana. Pameran karya Nandanggawe bertajuk “Ugliness (gambar-gambar kritis Nandanggawe)” ini memang menyajikan lukisan yang tak biasa-biasa saja. Kata “Ugliness” yang diangkat merupakan kontradiktif dari keindahan yang kerap disandingkan pada karya seni dan sekaligus pula menjadikan karya-karya seniman lulusan STSI ini menjadi tidak biasa.


 

Sepertinya, bagi Nandanggawe, lukisan adalah bentuk lain dari realitas yang selama ini dianggap biasa-biasa saja atau sudah menjadi kewajaran bagi publik. Lukisan-lukisannya lalu melanglang buana menembus batas-batas kewajaran yang pada hakikinya tidaklah wajar. Hal-hal kecil kemudian menjadi menarik dalam lukisan-lukisan yang dipaparkannya. Lukisan tersebut kemudian menjadi semacam realitas yang menyeruak di pasar-pasar, di gang-gang sempit, serta tempat-tempat lainnya yang sangat mungkin kita lihat berkali-kali dalam sehari sehingga ia menjadi tak terperhatikan dan kehilangan urgensivitas.

Ambil saja contoh lukisannya yang bertajuk “Dunia Hedon”. Lukisan tersebut menggambarkan manusia yang tengah berkubang dalam sebuah bathtub tengah asyik menghisap rokok dan memegang botol bir dengan jari telunjuk dan tengah mengacung. Gambaran bagaimana hedonitas yang menggejala di tengah masyarakat modern adalah satu bentuk dehumanisasi yang memberikan pengertian sebenar-benarnya akan siapakah manusia dan sekaligus pula mengkerdilkan pengertian dari manusia itu sendiri.


Lukisan unik lainnya yang sempat tertangkap mata adalah sebuah lukisan dengan teks yang cukup panjang bertuliskan “demi menjaga stabilitas nasional dilarang kencing di sini”. Kencing alias buang air adalah salah satu kenikmatan tiada tara yang dimiliki oleh umat manusia. Dalam lukisan yang disajikan Nandanggawe tersebut, “kencing” kemudian dapat dimaknai dengan begitu meluas. Ia bisa diartikan sebagai bentuk ekspresi yang dibungkam, bisa diartikan sebagai kondisi sosial kultural yang dipaksa berubah demi keamanan dan ketertiban, atau bahkan bisa diartikan dengan telanjang dan mudah: pipis itu, hal paling hakiki itu, bahkan diatur dengan semena-mena!


Pameran “Ugliness (gambar-gambar kritis Nandanggawe)” kemudian pada akhirnya memang berhasil menampar realitas yang ada. Bagaimana modernitas yang kian menggurita dan menjadi salah satu simbol peradaban yang kerap diagung-agungkan justru memiliki banyak sisi borok budaya yang akut. Tak ada yang salah mungkin dengan borok, namun pertanyaan terbesar yang mungkin hendak disampaikan oleh Nandanggawe adalah: Sadarkah kita dengan borok-borok tersebut? Lalu, jikalah sadar, sudahkah kita belajar mengobatinya? Atau jangan-jangan kita hanya terus-menerus memarut borok dan mencecarnya dengan antibiotik semata sehingga ia kian membesar, kian mengebal sekaligus membebal!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails