Beberapa waktu yang lalu, segerombolan bocah membisingkan Tobucil dengan kehebohannya. Ow, sudah barang tentu Tobucil sedang tidak menjelma menjadi Taman Kanak-Kanak atau SD Inpres. Iyaps, ini adalah acara sasantaian nan hehedonan bernama Crafty Kids. Kertas warna-warni dan beragam kekacauan yang tumpah ruah di atas meja menjadi bukti nyata tentang kehebohan yang terjadi.
Crafty Kids sendiri adalah sebuah wadah mengenalkan handmade kepada anak-anak. Para peserta yang hadir dengan penuh keriangan membuat beragam karya tangan seperti boneka kertas, boneka pom-pom, pin dari tutup botol, dan lain sebagainya. Moel yang menjadi mentor alias instruktur pada Crafty Kids kali ini mengungkapkan bahwa Crafty Kids sendiri merupakan ajang untuk mengajarkan anak-anak untuk belajar berkreasi.
| Kerusuhan di Meja Crafty Kids |
| Moel Sang Instruktur |
“ Ya, membuat apa saja. Selama bahan-bahan yang tersedia bisa dibuat sesuatu, makan mereka akan membuat sesuatu. Anak kecil, kan, enggak bisa dipaksain, ya. Tergantung mood mereka. Ya, paling kesulitannya, sih, karena mereka anak kecil jadi agak susah diatur,” jelas lelaki tambun nan lucu itu sembari sibuk mengatur tingkah polah para peserta yang sangat khas anak kecil.
Upi yang merupakan instuktur Crafty Kids tahun sebelumnya kemudian menambahkan pula bahwa meski susah diatur, namun anak-anak kecil tersebut justru kerap memiliki kemampuan untuk membuat karya-karya yang jauh dari nalar atau ide orang dewasa. “ Kita bahkan tidak pernah membayangkan sebelumnya jika ada benda-benda seperti yang mereka buat,” tambahnya kemudian.
![]() |
| Hey hey, karya aku bagus, kan? |
Oke, enough dengan kerusuhan ala bocah di Crafty Kids. Jujur saja, saya bukan penggila anak-anak. Tapi, satu hal yang pasti, jika bisa kembali ke masa lalu, saya ingin menjadi anak kecil dan hadir ke Crafty Kids sebagai anak-anak lalu dengan sepuas-puasnya menganggu Moel dan Upi sambil dengan penuh ketekunan membuat sesuatu. Well, sampai jumpa di Crafty Kids tahun depan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar