-Ini adalah kisah tentang sebuah taman pemilik sejuta kesejukan yang memanjang mengikuti alur sungai dan bercerita tentang kehidupan-
Di sebuah sore, seutas penat hinggap di pelupuk hari. Haus yang menyerang kemudian memaksa saya untuk “memarkirkan” diri di penjaja minuman dingin. Sisi Diponegoro yang rindang tak ayal membuat saya memesan pula sepiring Baso Tahu. “Bade tuang didieu atau di taman, Kang? (hendak makan di sini atau di taman, Kang?)” sang penjual Baso Tahu tiba-tiba menyerang dengan sebuah pertanyaan.
Dan di sinilah saya sekarang. Menikmati sepiring Baso Tahu bersama sejuknya Taman Lansia. Usai menandaskan makan sore, iseng saya mengitari taman yang terletak di depan jalan Diponegoro serta diapit oleh jalan Cisangkuy dan Cilaki itu. Taman yang berada tepat di samping Gedung Sate ini memang begitu memiliki daya penenang yang sedemikian hebat. Wangi dedaunan demikian nikmat saya rasai bersama helaan-helaan nafas. Amboi! Nikmatnya menghirup udara sambil ditemani senja kota yang memerah di taman yang satu ini!
Taman Lansia. Sesuai dengan namanya, taman dengan luas sekitar dua hektar ini memang diperuntukkan bagi para kaum lanjut usia. Meskipun demikian, para muda-mudi kota Bandung pun banyak yang terlihat menyambanginya. Tak jauh dari saya berdiri seorang kakek terlihat tengah melangkahkan kakinya dengan demikian perlahan serta hati-hati. Di sampingnya, seorang nenek memapahkan tangan ke lengan sang kakek. Dengan penuh kesabaran kakek itu menuntun perempuan tua di sampingnya itu. Ia lalu menoleh ke arah saya. Mungkin ia tersadar bahwa ada yang tengah mengamatinya. Seutas senyum pun saya ulurkan. Kakek itu dengan hangat membalasnya.
Senyuman kami lalu meningkat menjadi sebuah obrolan yang cukup mengasyikkan. Pasangan kakek nenek ini kemudian bercerita bahwa mereka hampir setiap sore mendatangi Taman Lansia. “ Kami suka disini, Jang (nak-red). Ya, Aki jeung nini (kakek dan nenek-red) mah sekadar meregangkan otot, lumayan untuk olahraga. Ah, lagian sudah tua begini mau ngapain lagi, tinggal menikmati hidup sajalah kami mah,” jelasnya kemudian.
Ah! Betapa tiba-tiba saya seperti disadarkan tentang menikmati hidup. Dan yang lebih penting lagi, mencintai hidup. Saya, tahu, para pengunjung taman ini pasti mencintai taman ini. Sama seperti mereka mencintai teman-teman sebaya mereka, seperti mereka mencintai kehidupan mereka. Berpeluh, melatih otot-otot yang mulai menua demi menikmati hidup yang beranjak senja.
Sepasang muda-mudi di salah satu bangku taman pun tampak demikian menikmati sorenya. Di tengah gegap gempita kota yang sudah demikian sesak, Taman Lansia seakan-akan memberikan saya pemahaman baru terhadap kehidupan. Derap perkotaan acapkali membuat para penghuninya tak mampu lagi memahami ketenangan. Namun, Taman Lansia dengan gemerisik anginnya yang ditimpa dedaunan seolah memberikan makna hakiki dari ketenangan itu sesungguhnya, ketenangan yang becerita bahwa ia lahir dari alam dan muncul di tepi-tepi sepi hiruk-pikuk gempuran debu perkotaan yang kian hari kian menebal. Perlahan tapi pasti, saya tahu bahwa saya mulai mencintai taman ini seperti halnya saya mencintai hidup dan kehidupan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar