Para lelaki itu satu persatu memasuki gelanggang pertunjukan. Tangan mereka menggenggam alat musiknya masing-masing dengan erat. Sebagian ada yang memegang rebana, lainnya ada yang memegang angklung dan calung, salah satu diantara mereka ada pula yang bersiap untuk memainkan terompet tradisional Sunda yang umumnya digunakan sebagai alat musik pengiring pada seni Penca (Pencak Silat).
Tak lama, suara khas pukulan rebana yang ditimpali dengan perpaduan angklung dan calung serta terompet yang bertindak sebagai pemegang melodi mengalun. Para pemain angklung dan calung memainkan bambu ditangannya sembari berjoget memutari para pemain rebana. Seorang penyanyi Beluk kemudian menembangkan kalimat syahadat dan juga shalawat.
Itulah dia semacam opening dari pertunjukan seni tradisional Bangklung yang saya tonton beberapa waktu silam. Koor suara penonton acapkali terdengar menggema riuh menimpali sang penyanyi Beluk, beberapa dari mereka bahkan tanpa malu-malu berjoget di depan panggung.
Pertunjukan seni Bangklung yang ditampilkan oleh Sanggar Seni Candra Maya, Kabupaten Garut ini memang menarik dan cukup unik. Percampuran budaya Islam yang diwakili dengan tetabuhan rebana yang bercampur dengan musik asli Pasundan yang diwakili oleh para pemain angklung, calung, dan terompet benar-benar memberikan nuansa yang cukup mengagumkan. Belum lagi suara khas penyanyi Beluk yang menembang dengan begitu interaktif semakin menambah hangat suasana.
Percampuran antara Islam dan Sunda ini terasa pula dari syair-syair yang dibawakan oleh sang penyanyi Beluk. Ada kalanya ia mengucapkan kalimat syahadat dan shalawat, namun ada kalanya pula ia menyanyikan syair-syair berbahasa Sunda yang umumnya berisi lelucon dan seakan-akan mengajak para penonton untuk bercakap-cakap. Lihat saja, di suatu bagian pertunjukan, tiba-tiba sang penyanyi menunjuk tangannya ke salah seorang penonton perempuan dan mulutnya melantunkan: “Anu geulis uha-ehe, kop wae jang si ujang…(yang cantik tersenyum-senyum, silakan saja untuk yang muda)…” kontan sang penonton tersebut langsung tersipu malu, gema tepuk tangan dan tawa penonton lainnya yang ramai menimpali nyanyian sang penyanyi semakin membuat mukanya memerah. Lelucon demi lelucon semakin deras mengalir, melarutkan para penontonnya untuk sedikit melepaskan kepenatannya masing-masing.
Kesenian tradisi Bangklung sendiri sebenarnya merupakan perpaduan dari seni Terbang dan Angklung. Seni Terbang adalah kesenian bernafaskan budaya Islam yang dibangun oleh waditra terbang (sebuah waditra terbuat dari kayu mirip rebana berukuran besar), sedangkan Angklung adalah waditra terbuat dari bambu dengan tabung sebagai sumber bunyi yang dibunyikan dengan cara digoyang. Seni Bangklung merupakan buah karya para seniman sunda bernama Ajuk Heryanto, Sri Asari, dan Rukasah yang diciptakan pada tahun 1966. Ia muncul pertama kali di kampung Cisero, kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Pada awal kemunculannya, jumlah pemain Bangklung berjumlah 27 orang, masing-masing membawa alat musik tarebang (rebana), angklung, beluk (vokal), terompet, keprak, dan seorang badut. Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai modifikasi pun dilakukan, termasuk pula dengan mengurangi jumlah para penampilnya.
Sebagai sebuah usaha untuk membuat seni tradisi tak ditinggalkan oleh masyarakatnya, apa yang disajikan oleh kelompok Bangklung ini memang patut mendapat acungan jempol. Meski pelakunya kebanyakan hanyalah kaum tua, namun ketuaan tak pernah memudarkan semangat memudakan Bangklung. Hanya saja, mungkin kita yang merasa muda tak mau banyak berbagi dengan ketuaan tersebut. Jadi? Mari membunuh ironi kawan-kawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar