31.5.11

On Day Monday - Papermoon Puppet Theatre

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.

Sudah tiga kali hari senin terlewat begitu saja tanpa cerita dari orang-orang hebat dari Jogja di On Day Monday. Keadaan hiatus yang cukup lama ini membuat kami rindu bertukar cerita dengan mereka. Sesuai dengan janji kami, On Day Monday kembali kami "on"-kan dan dibuka dengan sebuah cerita dari pemain dan pencipta boneka, Papermoon Puppet Theatre.


Menceritakan tentang Papermoon Puppet Theatre artinya bercerita tentang dua orang hebat di dalamnya, Ria dan Iwan. Sebenarnya saya mengenal Ria sudah cukup lama. Kalau dihitung-hitung, hampir enam tahun kami saling kenal. Namun obrolan kemarin sore di rumahnya terasa seperti berkenalan kembali dengannya. Sosoknya masih sama seperti yang terakhir kali saya ingat, mungil, ceriwis dan penuh semangat. Dan kemarin sore, untuk pertama kalinya saya mengetahui apa yang menjadi passionnya, kecintaannya dan juga pekerjaannya bersama dengan suami sekaligus partner kerjanya, Mas Iwan. 


Papermoon yang sekarang adalah anak yang dilahirkan oleh Ria dan Iwan. Sudah tumbuh besar dan aktif bergerak, bermain, belajar, menyebarkan virus-virus teater boneka kepada banyak orang. Papermoon yang sekarang, sudah terbang ke banyak tempat, dan mementaskan banyak judul. Papermoon yang sekarang, jelas tidak akan ada jika saja Ria dan temannya tidak memulainya dulu di tahun 2006. Dimulai dari sebuah perpustakaan dan studio workshop kecil untuk anak-anak, Papermoon kecil hanya dapat berjalan sebulan lamanya. Gempa yang mengguncang Jogja di bulan Mei 2006 otomatis menghentikan semua kegiatan perpustakaan dan workshop. Kegiatan kemudian dialihkan pada program trauma healing bagi anak-anak korban gempa ketika itu. Bekerjasama dengan beberapa NGO, Papermoon kecil mulai dikenal dan menjadi magnet bagi banyak volunteer untuk ikut bergabung. Kegiatan workshop menggabungkan antara seni rupa dan seni pertunjukan. Ria mengajak teman-teman volunteer untuk membuat boneka dari barang-barang bekas, dan kemudian mementaskannya untuk menghibur para korban gempa.Inilah yang merupakan embrio dari Papermoon Puppet Theatre.


Selama kurang lebih setahun berjalan, Ria akhirnya harus menentukan identitas Papermoon. Apakah akan terus berkonsentrasi pada perpustakaan dan workshop untuk anak-anak, atau mengikuti passionnya dalam seni pertunjukan boneka, yang tentu saja tidak melulu diperuntukkan bagi anak-anak. Dari proses ini, Ria akhirnya memutuskan fokus pada teater boneka, dimana dia bertindak sebagai sutradara dan penulis naskah, dan Iwan yang bertindak sebagai visual artist. Lahirlah Papermoon Puppet Theatre yang kemudian menjadi magnet bagi kesempatan-kesempatan luar biasa bagi Ria dan Iwan. Salah satunya adalah beasiswa yang mereka dapatkan untuk belajar mengenai puppet theatre dari 70 seniman di New York selama 6 bulan lamanya. Selain itu, Papermoon Puppet Theatre juga telah membawa Ria dan Iwan untuk melakukan pementasan dan mengikuti berbagai festival di luar dan dalam negeri. Proses kreatif Papermoon Puppet Theater menurut saya sangat D.I.Y. Ide cerita, Naskah, hingga boneka dan properti panggung semuanya dilakukan dan dibikin sendiri. Semuanya lahir dari tangan-tangan ajaib milik Ria, Iwan dan dibantu oleh beberapa teman-teman Papermoon. Salah satu karyanya yang membuat saya terpukau (sekaligus berkaca-kaca) adalah Mwathirika, yang ceritanya sarat akan sejarah Bangsa Indonesia. Menurut Ria dan Iwan, inilah kelokalan yang dibawa Papermoon. Cerita yang dipentaskan Papermoon adalah cerita yang sangat dekat dengan kehidupan orang-orang di Indonesia. Lebih lanjut baca di sini
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails