13.5.11

Mengenal Tanah Nusantara Lebih Dekat

Sebut saja namanya Vanya. Murid kelas lima SD itu dengan takjub memandang abu vulkanik yang tersaji di depannya. Usai melihat abu tersebut matanya beralih ke jajaran belerang yang diambil langsung dari gunung Galunggung. Tepat di samping kiri bocah berusia 10 tahun tersebut, jajaran foto gunung berapi yang terdapat di Indonesia tersusun rapi dengan tulisan-tulisan penjelas di setiap foto.
 
 
Vanya ternyata tidak sendiri, pagi itu, ia bersama puluhan teman satu sekolahnya tengah mengunjungi Museum Geologi dalam rangka menyambut liburan sekolah. Antusiasme tampak terpancar dari wajah mungil mereka. Sesekali bocah-bocah lucu itu bertanya kepada seorang guide museum tentang batuan-batuan di depannya. 

Tak bisa dipungkiri, museum yang satu ini memang sangat cocok untuk dijadikan pilihan ketika masa liburan sekolah tiba. Hal ini diakui oleh salah seorang guru yang hari itu turut serta dalam rombongan Vanya. Ia mengungkapkan bahwa, liburan sekolah akan sangat baik jika liburan tersebut diarahkan untuk memberikan pengetahuan kepada sang anak didik. Oleh karena itu pulalah Pak Maryanto, demikian ia akrab disapa, mengatakan bahwa bersama rekan-rekan guru lainnya ia kemudian merancang acara berkaryawisata ke Museum Geologi. 

Ucapan Pak Maryanto memang ada benarnya. Di tempat ini, kita akan diajak untuk mengenal tanah nusantara secara lebih dekat. Tak hanya bermacam jenis batuan yang terdapat di tanah air, museum ini juga memacam berbagai jenis rangka tengkorak manusia pra-sejarah. Pun demikian halnya dengan sejarah terbentuknya bumi. Sebuah ruangan yang mendeskripsikan tentang hal tersebut tersedia. Di ruangan tersebut, kita dapat melihat bagaimana proses bumi tercipta 4.600.000.000 tahun yang lalu. Dimulai dari masa bumi berbentuk lautan api yang kemudian mengeras menjadi batuan sampai bermunculannya makhluk hidup di muka bumi. Museum ini memang menyimpan berbagai koleksi geologi dan pertambangan terlengkap di Indonesia. Museum yang semula merupakan laboratorium ini memiliki ragam koleksi batuan, mineral, meteorit, fosil, dan artefak yang telah dikumpulkan sejak abad ke-19.


Keberadaan Museum Geologi sendiri berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17  oleh ahli-ahli Eropa. Setelah di Eropa terjadi revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, mereka sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Dengan jalan itu diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat ditunjang. Maka dibentuklah Dienst van Het Mijnwezen  pada tahun 1850. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi dan sumberdaya mineral. Seiring dengan perkembangan jaman, pada tahun 1999 Museum Geologi mendapat bantuan dari Pemerintah Jepang senilai 754,5 juta yen untuk direnovasi. Setelah ditutup selama satu tahun, Museum Geologi dibuka kembali  dan pembukaannya diresmikan pada tanggal 20 Agustus Tahun 2000 oleh Wakil Presiden RI kala itu Megawati Soekarnoputri.

 
Kembali kepada Vanya, bocah yang tadi terlihat asyik melihat batu-batuan koleksi Museum Geologi. Ia telah mengalihkan pandangannya. Tubuh mungilnya kini berada di ruangan tengah museum. Ia sedang berdiri di depan replika Tyrannosaurus, salah satu jenis dinosaurus karnivora terbesar dan terganas yang telah punah ribuan tahun lalu. Tak hanya itu, replika dari kura-kura purba sampai dengan Stegodon Triginochepalus (gajah purba) yang juga terdapat di ruangan tersebut tak lepas dari pandangannya. Mulutnya sesekali berdecak melihat pemandangan dihadapannya itu. Tak hanya itu, Museum Geologi memiliki pula bermacam koleksi unggulan berupa fosil manusia purba seperti Homo Erectus.


Melihat gerak-gerik Vanya dan teman-temannya, pada akhirnya seolah memberikan semacam penyadaran. Penyadaran tentang makna yang dikandung di balik tembok-tembok penyusun museum. Menyambangi Museum Geologi dengan demikian memberikan pembelajaran penting tentang sebuah napak tilas. Sejarah ketika semua bermula, dan sudah barang tentu, bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai sejarahnya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails