Chloé Tallot mungkin adalah seniman yang cukup berhasil menggambarkan pertarungan dan percampuran paling purba yang dimiliki oleh jiwa manusia. Setidaknya itu yang berhasil saya tangkap pada pameran foto Séries Animale et Sentimentale di CCF, Bandung beberapa waktu lalu tersebut. Memang, Sejak masa kanak-kanak, Chloé Tallot tetap menjaga hubungan akrab dengan seni. Saat ini, dengan bebas ia mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru gambar, suara, bentuk dan warna yang ditawarkan oleh kemampuan teknologi terkini. Imajinasinya hidup dari beragam pengalaman: dorongan hati, rasa menggebu, kesadaran, keangkuhan, penolakan, kontradiksi, impian, sang seniman pun menciptakan dunia yang sangat pribadi yang mewakili emosi generasinya.
Pada pamerannya kali ini, terdapat dua seri gambar yang diangkat, yakni Seri Hewani dan Seri Sentimental. Seri Hewani mengetengahkan tubuh telanjang manusia dan binatang dengan menghubungkan kulit-kulit manusia dan kulit tebal binatang. Seri ini mempertanyakan sisi kebinatangan pada manusia, menjelajahi sensasi seperti yang dikembalikan kehidupan ke dalam perut. Adapun Seri Sentimental adalah kebalikan dari Seri Hewani, yakni merupakan ilustrasi kerja jantung, pikiran, intimitas, dan perasaan. Seri ini disusun dalam lima sekuen potret diri. Masing-masing sekuen merupakan sebuah cerita di mana perasaan diperlihatkan secara ilmiah dan dikonfrontasikan dengan organ anatomi dan diagram sebenarnya.
Berbicara tentang kepurbaan adalah pula berbicara tentang rasa, intuisi mendalam yang mengalahkan atau berada di atas logika. Rasa adalah simbol dari keinginan yang kerap dimatikan dikarenakan ia dicap hanya berujud “keinginan” dan bukan apa yang “dibutuhkan”. Tallot, lalu dengan gemilang berhasil mengilmiahkan apa yang dinamai dengan rasa tersebut. Penyajian organ tubuh dalam sepiring menu, manusia dengan baju berkilau di dalam janin merupakan beberapa simbol yang sudah sepatutnya dimaknai pada ranah kontemporer yang seringkali melupakan inti mendasar dari gejala humanis.
Ketertarikan pada manusia begitu kental terasa pada 12 karya yang dipamerkan pada Séries Animale et Sentimentale. Setiap organ kemudian tersaji seolah hendak mewartakan fungsi-fungsinya yang paling mendasar, manusia sebagai homo sapiens, binatang yang diberi akal dan kecerdasan. Menyimak Tallot adalah menyimak bagaimana kemudian sisi kebinatangan tersebut justru menyempurnakan sisi humanis yang dimiliki oleh manusia. Tak ada manusia yang humanis jikalah ia tidak menjadi “binatang”. Inilah sifat paling purba manusia yang tak akan pernah tergerus meski dunia dan kebudayaan melaju dengan kecepatan tak terbayangkan. Melankolitas yang sarkas sekaligus benar adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar