5.2.11

Urang Sesepedahan, Yuk… (Catatan Kecil untuk Upi)

Sepeda adalah salah satu alat transportasi tertua yang dimiliki oleh manusia dan sempat menjadi idola dalam menempuh perjalanan jauh sebelum ditemukannya kendaraan bermotor. Meski demikian, kelahiran kendaraan bermesin seperti motor atau mobil ternyata tak membuatnya tergusur begitu saja. Inovasi dan perkembangan alat yang menggunakan tenaga manusia ini terus bergerak tak henti, fungsinya kian meluas. Kini, selain digunakan sebagai alat transportasi, kegiatan menggenjot sadel ini menjelma pula menjadi salah satu hobi yang banyak diminati, terlebih dengan munculnya sepeda gunung atau yang dikenal juga dengan sebutan mountain bike (MTB). Hal itu pula yang kemudian ditekuni oleh seorang Priambudi, lelaki yang telah selama 3 tahun terakhir ini cukup intens menyalurkan hobi menembus belukar dengan menggunakan MTB.


 Ditemui di sela-sela aktivitasnya, lelaki single ini bertutur panjang lebar mengenai tips dan trik bagi Anda yang ingin memulai hobi bersepeda gunung ria. Menurutnya, sepeda gunung bisa dibeli mulai dari harga 700 ribu hingga puluhan juta rupiah. Kualitas bahan, fitur dan desainnyalah yang membedakan. Sepeda gunung seharga 700 ribu framenya masih terbuat dari besi, sedangkan yang puluhan juta berbahan serat karbon, bahan yang sama dengan pesawat terbang. Bagi kebanyakan orang, frame berbahan aluminium sudah mencukupi. “ Akan tetapi. jika budget mencukupi, jangan membeli sepeda gunung dengan harga di bawah 1 juta rupiah dan jangan pula yang terlalu mahal. Untuk pemula yang sekadar ingin bicycling for fun, sepeda berharga 1,5 - 3 juta rupiah sudah sangat mumpuni,” tutur Priambudi memulai perbincangan siang itu.


“Bagi para pemula, sebaiknya mengenal dahulu tentang klasifikasi sepeda gunung berdasarkan fungsi yang dimilikinya,” ujarnya ringan, “ berdasarkan fungsinya, MTB diklasifikasikan menjadi lima jenis. Cross Country (XC) Dirancang untuk lintas alam ringan hingga sedang dan didesain agar efisien sekaligus optimal pada saat mengayuh dan menanjak di jalan aspal hingga jalan tanah pedesaan; All Mountain (AM) dirancang untuk lintas alam berat seperti naik turun bukit, masuk hutan, melintasi medan berbatu, dan menjelajah medan offroad jarak jauh; Freeride (FR) dirancang untuk mampu bertahan menghadapi lompatan tinggi dan kondisi ekstrim sejenisnya. Bodinya kuat namun tidak secepat dan selincah all mountain karena bobotnya yang lebih berat, jenis ini sendiri, kurang cocok untuk dipakai jarak jauh; Downhill (DH) Dirancang agar dapat melaju cepat, aman dan nyaman dalam menuruni bukit dan gunung dan selalu dilengkapi suspensi belakang untuk meredam benturan yang sering terjadi; dan terakhir adalah Dirtjump (DJ) yang pada awalnya merupakan kegemaran anak muda perkotaan yang menggunakan sepeda gunung selain sebagai alat transportasi. Fungsinya mirip BMX namun dengan bentuk yang diperbesar,” jelas Priambudi. 


Menurut pecinta MTB yang juga membuka usaha di bidang konveksi ini, Sepeda gunung bisa dibeli dalam bentuk sepeda jadi (full-bike) maupun rakitan yang komponennya kita tentukan sendiri. “ Sebenarnya kualitas keduanya sama saja, hanya yang pertama diproduksi massal di pabrik sedang yang lainnya tidak, bagi pemula yang memiliki budget terbatas, sebaiknya membeli saja MTB full bike karena harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan apabila kita merakit sepeda sendiri,” tuturnya memberi saran. 


Priambudi lalu menjelaskan bahwa sepeda gunung ada yang dilengkapi suspensi depan saja (hardtail), ada juga yang sekaligus memiliki suspensi depan dan belakang (full-suspension). Ia kemudian mengungkapkan pula bahwa bagi para pemula sebaiknya memulai dengan hardtail. Alasannya antara lain agar para pemula terlebih dulu membiasakan diri dengan sepeda yang lebih ringan, efisien dalam mengayuh, mudah dalam pengendalian, dan sederhana dalam perawatan. Baru setelah jam terbangnya dengan hardtail cukup banyak dapat beralih ke full-suspension. “Namun perihal hardtail dan full suspension ini perlu digarisbawahi, sebenarnya sepeda gunung  full suspension kelas atas telah memiliki performa dan efisiensi mendekati hardtail, jadi jika memiliki dana berlebih, tak ada salahnya pula membeli MTB full suspensi. Tentunya, yang dipilih bukan full-suspension ‘asal jadi’ dengan efek bobbing besar (rantai mengendor dan mengencang akibat gerakan suspensi belakang, membuat kayuhan menjadi berat dan energi terbuang percuma) karena justru akan menyengsarakan dan jangan-jangan malah akan membuat kapok bersepeda,” ia lalu buru-buru menambahkan.


“ Bagi yang baru pertama kali membeli MTB, belilah sepeda Cross Country terlebih dahulu. Baik hardtail maupun full-suspension. Jangan membeli sepeda Freeride, apalagi Downhill. Yang pasti, terdapat dua hal mendasar berkenaan dengan pembelian MTB: ukuran sepeda dan posisi sadel. Sepeda gunung yang kebesaran atau kekecilan akan menyebabkan kurang nyaman dan akan menyebabkan kecelakaan yang fatal. Jadi perhatikan benar kedua hal tersebut,” imbuh Priambudi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails