Adzan Subuh lamat berkumandang menembus sela-sela embun. Matahari pelan-pelan menyembul dengan gagah dari ufuk timur. Tak berapa lama setelahnya, secangkir kopi pagi menemani saya memulai hari. Seorang teman yang hari itu memperbolehkan saya menginap di tempatnya baru saja terjaga.
“Hai, sudah bangun?” ia menyapa dengan suaranya yang masih agak parau, “jalan-jalan ke Gasibu, yuk!” ajaknya kemudian sambil mencuri sehirup kopi dari cangkir saya.Saya hanya membalas ajakannya itu dengan sebuah anggukan kecil. Gasibu, setiap Minggu ia memang selalu berubah menjadi pasar kaget yang begitu ramai. Sang teman yang tadi mengajak tengah berganti pakaian. Tak berapa lama kemudian, dengan mata masih sedikit berat, kami berdua melangkah keluar.
Jadi, disinilah saya sekarang. Di sebuah tempat yang bernama Gasibu. Terletak tak jauh dari Gedung Sate, Gasibu memang selalu telihat ramai pada Minggu pagi. Para pedagang dengan aneka rupa dagangannya tumpah ruah memenuhi jalan. Di tempat ini pula banyak ditemui para pembuat kerajinan alias penggiat handmade pada arti sesungguhnya. Saya kini tengah asyik di depan Pak Endin. Pagi itu, lelaki paruh baya tersebut menjual gelang dan kalung.
“ Sudah sekitar lima tahun saya menggelar dagangan di sini. Barang yang saya jual ini bikinan anak saya. Ya, iseng saja. Dia, kan ibu rumah tangga. Suaminya kerja di luar kota. Jadi senang membuat pernak-pernik untuk mengisi hari. Nah, daripada numpuk, saya jual saja di Gasibu,” ujar Pak Endin.
Lelaki yang tinggal di daerah Cibiru, Bandung ini mengatakan bahwa setiap hari Minggu ia sudah bersiap-siap semenjak jam dua pagi. Seringkali pula, hampir setiap minggu, ia “menginap” di sisi-sisi jalanan Gasibu. “Soalnya, pedagang di sini sistemnya siapa cepat dia dapat, jadi, ya harus dulu-duluan supaya kita bisa dapat tempat yang strategis untuk berjualan,” jelasnya kemudian.
Saya tinggalkan Pak Endin setelah puas bercakap-cakap. Manusia-manusia yang begitu penuh membuat perjalanan menjadi sedikit lambat. Sang teman yang tadi mengajak mengunjungi tempat ini tampak begitu sibuk hinggap dari satu pedagang ke pedagang yang lain. Mulutnya tak henti-hentinya menawar barang yang ingin dibelinya. Saya pun jadi ikut-ikutan sibuk berbelanja. Gelang dan beberapa kalung unik kini memenuhi tangan saya. Lelah kemudian menyergap. Sang teman masih sibuk menawar sebuah syal cantik yang ingin dibelinya. Sembari menunggu ia berbelanja, iseng saya duduk di salah satu pinggiran trotoar. Menghirup sejenak udara dengan begitu dalam. Suara-suara riuh rendah itu menyelusup ke gendang telinga. Seorang Ibu yang tengah asyik menanyakan harga kepada penjual kain batik, muda-mudi yang terlihat begitu mesra dengan Arum Manis di tangannya saling bergandengan, beberapa perempuan muda berbalut busana olahraga dengan satu dua keringat yang menetes di dahinya sedang menghentikan aktifitasnya dan memilih untuk bersenda gurau di tenda penjual bubur ayam.
Dengung-dengung kesibukan itu tiba-tiba terdengar bagai suara-suara yang tengah begitu menikmati pelariannya dari rutinitas sehari-hari. Pun demikian halnya dengan para pedagang yang asyik memarkir barang-barangnya dan siap melayani para pembelinya. Sebagian dari mereka ternyata bukanlah asli pedagang. Pak Endin, misalnya. Ia sehari-hari bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah SMP Negeri. “Ah, saya mah iseng saja, toh lumayan, dapat uang sekaligus jadi sehat dan bisa bertemu banyak orang baru,” tiba-tiba saya teringat jawaban Pak Endin tadi ketika ditanyai tentang kegiatannya sehari-hari di luar hari Minggu.
Begitu pula halnya dengan Dina sang pedagang kalung yang tadi sempat saya hampiri. Dina adalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang memang sudah sejak dua tahun terakhir rajin berdagang di Gasibu. “Saya suka keramaian di sini, lagipula, barang dagangan yang saya ambil dari salah seorang teman di kampus ini selalu laku terjual, ya… lumayan, bisa dapat uang tambahan, sekalian cuci mata,” jawabnya dengan gaya kenes.
Pedagang dan para pembeli itu memang terlihat bercampur menjadi satu serta menghadirkan simponi yang cukup menyegarkan. Suara-suara langkah kaki, riuh-rendah pedagang yang menawarkan barang-barangnya, bercampur bersama suara rengekan seorang anak yang menunjuk-nunjuk sebuah mainan sambil menarik baju bundanya. Sang teman yang tadi sibuk menawar telah berhasil mendapatkan barang yang diinginkannya. Tepukan halusnya di pundak saya sedikit mengagetkan. Kami berdua lalu kembali menyusuri jalanan di seputar Gasibu, melangkah bersama ribuan kaki lainnya. Tak ada yang pernah tahu sampai kapan Gasibu dapat bertahan. Keramaian ini pun kini terancam bubar karena dianggap sebagai biang kemacetan tiap akhir pekan. Akan direlokasikah? Saya tak punya jawaban untuk itu. Yang pasti, Suara-suara klakson dari mobil dan motor terdengar bersahutan di belakang, dan tiba-tiba saya tersadar betapa indahnya pelarian hari ini!

sama banget kaya di deket rumahku Mbak Tarlen, cuma bedanya diadain tiap hari jumat :)
BalasHapusbarang22nya jg beragam dan yg terpenting murah2 hihihihi....
gasibu menyenangkan :)
BalasHapusbaju vintagenya lebih murah dari gedebage hehe
walaupun efek negatifnya kita bisa jadi konsumtif tingkat tinggi kalo kesini, tapi ini jadi 'lapangan pekerjaan' dalam arti sesungguhnya buat banyak orang y :P
semoga yang terbaik buat gasibu kedepannya,
kalopun digusur, semoga ada tempat yg lebih nyaman dan tertib..