25.2.11

Mereka-Reka Barongsai dan Para Sahabatnya


Saya tidak tahu apakah tulisan ini cukup tepat untuk dimasukkan ke dalam blog Tobucilhandmade, tapi energi yang terserap untuk menghadirinya plus hasrat individu yang pengen bercerita membujuk saya untuk menuliskannya dengan segera sebelum rasa malas menyerang dari segala arah. Bermula dari keisengan, belahlah jalanan Bandung oleh saya dan Mbak Tarlen yang ngebet melihat pertunjukan Barongsai di kitaran Cibadak-Sudirman.


Mencari-cari lokasi yang tepat laksana sniper keriuhan gila-gilaan kemudian menjadi sahabat dan memaksa untuk merapatkan langkah agar dapat menikmati gelaran Kirab Budaya Cap Go Meh 2011 pada 19 Februari lalu. Jujur saja, saya tak paham sama sekali mengenai apa sebenarnya yang dirayakan oleh Cap Go Meh dan ritual apa pula yang dijalani oleh para pelakunya. Menempuh perjalanan sekitar lima kilometer, kirab ini sukses menarik pengunjung sekaligus membuat kemacetan. Aksi-aksi menarik ditampilkan, mulai pawai tandu sepanjang dua kilometer, barisan marching band terbaik, kendaraan hias, hingga atraksi barongsai dan liong.


Perihal barongsai ini mungkin yang paling menarik mata siapapun yang melihatnya. Barongsai sendiri merupakan tarian tradisional Cina dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa dan telah berumur ratusan tahun lamanya. Alkisah, Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda.


 Lalu, bagaimana dengan di Indonesia? Konon ia telah hadir dari abad ke-17. Ratusan tahun berkembang, tragedi 30 September lalu membumihanguskan segala macam bentuk kebudayaan warga keturunan. Barongsai dimusnahkan dan tidak boleh dimainkan lagi. Kini, setelah rezim Cendana tumbang, ruang gerak pelaku kebudayaan ini pun dapat sedikit menghela nafas.


Mengamati kirab kemarin, saya sendiri tak begitu yakin jika acara serupa dapat terulang di tahun mendatang. Pasalnya, Indonesia adalah salah satu negara dengan berbagai keanekaragaman yang seringkali tak ingin beragam. Satu yang menggelitik, pada acara kirab tersebut, ternyata tak hanya warga keturunan yang tumpek blek memenuhi jalanan hingga beberapa kali petugas dan panitia terpaksa meminta pengunjung untuk membuka ruang agar iring-iringan kirab tak tersendat. Pribumi dari berbagai suku dan ras yang mencari hiburan turut menikmati dan larut dalam atraksi yang disajikan. 



Saya tentu tak ingin berbicara mengenai mengapa kerap terjadi keributan dan kerusuhan di Indonesia, siapa dalang kerusuhan tersebut, atau apapun yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Kebudayaan, yang kerap berasal dari suku dan ras bahkan agama, sesungguhnya adalah maha karya. “Hasil dari praktik intelektual”, ungkap John Storey dalam bukunya. Mungkin itu sebabnya kemudian kirab beberapa waktu lalu tersebut menjadi disesaki pengunjung, karena bagaimanapun dan siapapun manusia, ia sudah barang tentu selalu tertarik untuk menikmati “hasil dari praktik intelektual” karena akal yang dimilikinya.


Sayangnya, manusia yang diberi akal, juga diberi ambisi untuk menaklukkan. Ini pula mungkin yang menyebabkan kebersitegangan muncul dan hadir atas nama kelompok dan digerakkan oleh tangan-tangan ajaib yang sebenarnya terlihat namun seperti tak tersentuh. Sebuah pendapat lalu pernah berujar “kita bukan sedang menuju, tapi kita tengah berperang. Jiwa kita adalah pelaku, korban, sekaligus panggung pertempuran tersebut”. Permasalahannya adalah, siapa kemudian yang kita jadikan musuh? Ambisi atau pelaku, korban, dan panggung lain? Ah, saya jadi teringat dengan pepatah generasi jadul: make love not war!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails