11.2.11

Membedah Konsep di Atas Talenan

Stendhal berujar, apa jadinya ketika di tengah keramaian pistol disalakkan ke atas? Perhatian berbaur dengan keriuhan yang bermula dari perhatian karena ada adegan mengejutkan adalah jawabannya. Manusia, apapun latar belakang dan ambisinya, memang kerap diwajibkan menyalakkan pistol ke udara ketika ingin menampilkan ekpresinya, mendapat perhatian dengan melakukan hal yang tak lazim. Tentu saja, tak hanya penggunaan pistol semata, melempar sepatu ke muka Bush Jr atau berbugil ria memasuki Circle K, misalnya, adalah pula penggambaran paling mendasar dalam mempraktekkan apa yang disampaikan oleh Stendhal.


Pola-pola ala Stendhal ini pula yang kemudian digunakan oleh Prabu Perdana dan Nugraha Hadiwijaya dalam pameran Multitalenan yang digelar keduanya di CCF Bandung pada Februari ini. Seperti mendengar salakan pistol, minat saya untuk melihat pameran ini begitu membara demi membaca kata multitalenan yang hadir dari pertengkaran demi pertengkaran keduanya dan merupakan plesetan dari kata multitalent.


Tak dapat menghadiri  pembukaan pameran tersebut tak membuat saya kehilangan hasrat. Sehari sesudahnya, seusai belanja-belinji, saya sempatkan diri untuk mengunjungi Multitalenan. Jujur, ketika memasuki ruang pameran, hamparan lukisan yang dicoretkan pada media talenan cukup menggugah mata meski secara tematik agak sulit bagi saya untuk memahami apa sebenarnya yang hendak diusung oleh Multitalenan kepada khalayak.  Kesulitan saya makin bertambah ketika lukisan kedua creator ini dicoretkan pula dihamparan media konvensional berujud kanvas. Mengapa media unik semacam talenan harus ditabrakkan dengan media konvensional bernama kanvas? Ingin menggambarkan gejala kontemporerkah? Atau hanya meletakkan karya individu yang sudah terlalu lama teronggok di pojok kamar? Semoga kesimpulan saya yang pertama adalah jawabannya. Pertanyaan berikutnya adalah, jikalah kesimpulan pertama itu benar adanya, pada sisi manakah ke-paradoks- itu dihadirkan? 


Jika harus mengingat kembali pertengkaran yang terjadi antara Prabu dan Hadi yang diibaratkan bagai MP3 dan piringan hitam yang bertemu, paradoksal sudah sepatutnya menjadi tematik yang seharusnya diusung keduanya. Gelaran talenan dan kanvas pun sebenarnya mengungkit mengenai hal tersebut. Namun, kekaburan konsep yang mulai menggurita menyebabkan saya agak ragu dan merasa terlalu lancang untuk mengatakan bahwa keduanya hendak mengangkat paradoksal.


Sedikit ingin bercerita, kebingungan saya kemudian bertemu dengan Erri Nugraha, penggagas Kontemplacity. Larutan percakapan kami kemudian berujung pada pengertian konsep. Dalam tataran praktis, konsep memang kerap menjadi hal yang sedikit terlupakan tergantikan oleh pemahaman mengenai kebaruan. Segala yang memiliki konsep belumlah pasti mengandung kebaruan, namun sudah dapat dipastikan segala kebaruan diwajibkan memiliki konsep kecuali ia hanya ingin hadir sebagai karya klangenan, karya yang memberi hiburan semata yang bersifat inividualis ekslusif tanpa memberikan ruang-ruang perenungan yang cukup bagi khalayak.

Tentu, saya tak ingin mengatakan bahwa apa yang dihadirkan Multitalenan adalah bentuk dari seni klangenan. Cukuplah kiranya saya berpikir bahwa Multitalenan adalah sebuah proses pencarian yang belum usai. Proses menjaga kestabilan semangat berkarya para pelakunya yang “katanya” bersahabat sekaligus berivalitas dalam berkarya. Saya yang usai mengamati Multitalenan kemudian beringsut sambil sedikit tersenyum, memahami bahwa semangat yang terus menyala adalah pintu, sedang konsep adalah kunci untuk membuka pintu tersebut. Kini, sebaiknya saya belajar untuk yakin bahwa Prabu dan Hadi suatu hari nanti akan memiliki kunci tersebut.

2 komentar:

  1. tulisan yang sangat kritis dan mendalam..
    Talenan adalah alat untuk mengolah makanan, dan sebagai manusia yang terdiri dari jiwa dan raga, sungguh bijak kalau kedua unsur yang membentuk diri kita itu diolah keduanya..
    Untuk raga; ada makanan dan olah raga...
    Ada orang bijak berkata; jiwa yang sehat melahirkan tubuh yang sehat..artinya, orang akan bahagia dan sehat hidupnya apabila ia tenang dan senang..
    karenanya sebagai gizi untuk jiwa, pendalaman bakat (karena dengan mengerjakan apa yang menjadi bakat adalah sangat menyenangkan dan menenangkan) dengan terus-menerus diolah, dan ini adalah ide utama media talenan ini (karena talenan adalah alat untuk mengolah, dan proses ini belum berakhir, bisa berlanjut terus atau berhenti begitu saja)
    Terimakasih telah datang berkunjung ke pameran multitalenan beberapa waktu lalu..
    :-)
    -Hadi-

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails